Ungkapan hadits Qudsi terdiri dari dua kata, hadits dan Qudsi.
Sabtu, 27 November 2021
Apa itu Hadits Qudsi?
Ungkapan hadits Qudsi terdiri dari dua kata, hadits dan Qudsi.
Resmi, Arab Saudi Larang Selfie Saat Umroh Atau Naik Haji, ini Hukum Selfie Saat Naik Haji Dalam lslam
Bismillah Alhamdulillah akhirnya Pemerintah Arab Saudi melarang selfie dan rekam video di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
Pemerintah Arab Saudi melarang jamaah yang datang ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi melakukan selfie dan merekam video, semoga ini memberikan kebaikan kepada jamaah yang datang ke dua tempat suci ini, yakni menjauhkan diri dari riya' dan ujub dalam amal ibadah yang jika dilakukan dapat menghapus pahala amal ibadah di lokasi ini,
Allahu a'lam.
Jadi ingat hal ini pernah dibahas oleh Syaikh Ruhaili hafizhahullah ta'ala, yakni kebiasaan jamaah umroh dan haji Indonesia yang hobi selfie disaat menjalankan amalannya.
Bagi yang hobby selfie dan ingin umroh atau haji mulailah rubah kebiasaan anda mulai sekarang dengan tidak bermudah-mudah berselfie ria.
Hukum Selfie
Pertanyaan:
Banyak banget sekarang hobby selfy, mohon dijelaskan apa hukum selfie?
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras seseorang ujub terhadap dirinya. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai dosa besar yang membinasakan pelakunya.
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ
شُحٌّ مُطَاعٌ ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
"Tiga dosa pembinasa: sifat pelit yang ditaati, hawa nafsu yang dituruti, dan ujub seseorang terhadap dirinya." (HR. Thabrani dalam al-Ausath 5452 dan dishaihkan al-Albani)
Di saat yang sama, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi kita untuk menjadi hamba yang berusaha merahasiakan diri kebalikan dari menonjolkan diri.
Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ
"Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa, yang berkecukupan, dan yang tidak menonjolkan diri." (HR. Muslim 7621).
Selfie, jeprat-jepret diri sendiri, sangat tidak sejalan dengan prinsip di atas. Terlebih umumnya orang yang melakukan selfie, tidak lepas dari perasaan ujub. Meskipun tidak semua orang yang selfie itu ujub, namun terkadang perasaan lebih sulit dikendalikan.
Karena itu, sebagai mukmin yang menyadari bahaya ujub, tidak selayaknya semacam ini dilakukan.
Allahu a’lam.
****
Di Tulis Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits, ST, BA hafidzhahullah
Di nukil dari: https://www.fotodakwah.com
Selasa, 23 November 2021
Mengapa Matahari & Bulan Dimasukkan Ke Neraka Kelak?
Matahari dan bulan di hari akhir nanti memang akan dimasukkan ke dalam neraka. Hal ini telah ditegaskan sendiri oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda,
الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ثَوْرَانِ مُكَوَّرَانِ فِي النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Matahari dan rembulan seolah-olah seperti sapi jantan yang digulung ke dalam Neraka pada hari kiamat.” [HR Ath-Thahawi dalam “Al-muhalla bil-Atsar” (1/96), dan dishahihkan oleh Al-Albani di Silsilah Ash-Shahihah (124)]
Salah satu tafsirannya sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Khatthabi,
“Keberadaannya di neraka bukanlah maksudnya karena disiksa. Akan tetapi celaan terhadap orang-orang yang dahulu menyembah matahari dan rembulan ketika di dunia, agar mereka mengetahui bahwa peribadatan mereka pada keduanya adalah bathil.” (Fathul Bari, 6/215)
Matahari dan bulan dimasukkan ke neraka bukan untuk disiksa, sebagaimana malaikat-malaikat penjaga neraka juga ada di dalam neraka bukan untuk disiksa. Keadaan ini semisal dengan batu dan berhala-berhala yang mereka sembah yang ikut dimasukkan ke dalam neraka sebagai bentuk menghinakan dan mempermalukan mereka agar semakin menyesali perbuatan-perbuatan mereka di dunia dahulu.
Allah ta'ala berfirman,
اِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ حَصَبُ جَهَنَّمَۗ اَنْتُمْ لَهَا وَارِدُوْنَ
“Sungguh, kamu (orang kafir) dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah bahan bakar Jahanam. Kamu (pasti) masuk ke dalamnya.” (QS Al-Anbiya’ : 98)
Keberadaan matahari dan bulan di dalam neraka justru akan menambah siksaan batin bagi para penyembahnya. Ibarat seseorang yang kita puji-puji, kita selalu berbuat baik kepadanya ternyata di belakang kita dia malah mengolok-olok dan menjelek-jelekkan kita, maka sakit hati yang kita rasakan justru semakin menyakitkan.
Demikianlah keadaan yang dirasakan oleh penghuni neraka tatkala melihat ternyata sesembahan-sesembahan mereka dahulu menjadi bahan bakar yang semakin menambah panasnya neraka.
***
Artikel www.muslimafiyah.com
Penulis: Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK
Matahari dan bulan di hari akhir nanti memang akan dimasukkan ke dalam neraka. Hal ini telah ditegaskan sendiri oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda,
الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ثَوْرَانِ مُكَوَّرَانِ فِي النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Matahari dan rembulan seolah-olah seperti sapi jantan yang digulung ke dalam Neraka pada hari kiamat.” [HR Ath-Thahawi dalam “Al-muhalla bil-Atsar” (1/96), dan dishahihkan oleh Al-Albani di Silsilah Ash-Shahihah (124)]
Salah satu tafsirannya sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Khatthabi,
“Keberadaannya di neraka bukanlah maksudnya karena disiksa. Akan tetapi celaan terhadap orang-orang yang dahulu menyembah matahari dan rembulan ketika di dunia, agar mereka mengetahui bahwa peribadatan mereka pada keduanya adalah bathil.” (Fathul Bari, 6/215)
Matahari dan bulan dimasukkan ke neraka bukan untuk disiksa, sebagaimana malaikat-malaikat penjaga neraka juga ada di dalam neraka bukan untuk disiksa. Keadaan ini semisal dengan batu dan berhala-berhala yang mereka sembah yang ikut dimasukkan ke dalam neraka sebagai bentuk menghinakan dan mempermalukan mereka agar semakin menyesali perbuatan-perbuatan mereka di dunia dahulu.
Allah ta'ala berfirman,
اِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ حَصَبُ جَهَنَّمَۗ اَنْتُمْ لَهَا وَارِدُوْنَ
“Sungguh, kamu (orang kafir) dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah bahan bakar Jahanam. Kamu (pasti) masuk ke dalamnya.” (QS Al-Anbiya’ : 98)
Keberadaan matahari dan bulan di dalam neraka justru akan menambah siksaan batin bagi para penyembahnya. Ibarat seseorang yang kita puji-puji, kita selalu berbuat baik kepadanya ternyata di belakang kita dia malah mengolok-olok dan menjelek-jelekkan kita, maka sakit hati yang kita rasakan justru semakin menyakitkan.
Demikianlah keadaan yang dirasakan oleh penghuni neraka tatkala melihat ternyata sesembahan-sesembahan mereka dahulu menjadi bahan bakar yang semakin menambah panasnya neraka.
***
Artikel www.muslimafiyah.com
Penulis: Ustadz dr. Raehanul Bahraen, M.Sc., Sp. PK
Mengapa Siksa Kubur Tidak Bisa Didengar oleh Manusia?
Hikmahnya antara lain disebutkan oleh Syaikh Al-'Allamah Al-Utsaimin,
1). Nabi ﷺ telah mengisyaratkan dalam sabdanya, "Kalau saja kalian tidak saling menguburkan maka aku akan berdoa kepada Allah agar memperdengarkannya kepada kalian.”
2). Demi menutup aib si mayyit yang berdosa sehingga tidak dipergunjingkan.
3). Dirahasiakannya siksa kubur agar keluarganya tidak sedih berkepanjangan.
4). Tidak mempermalukan keluarganya dengan dikatakan, "Lihat anakmu disiksa", "Bapakmu disiksa", "Saudaramu disiksa", atau kalimat yang serupa.
5). Manusia akan binasa jika mendengarnya karena teriakan orang yang disiksa di kuburnya bukan hal yang ringan.
6). Apabila manusia mendengarnya maka beriman dengan siksa kubur merupakan keimanan terhadap sesuatu yang tampak, tidak lagi beriman terhadap hal yang gaib sehingga luput darinya maslahat ujian.
Karena manusia akan beriman dengan perkara yang disaksikannya secara pasti.
Apabila hal tersebut tersembunyi darinya dan mereka tidak mengetahuinya kecuali melalui jalan berita maka inilah hakikat beriman terhadap hal yang gaib.
(Majmu' Fatawa 8/482)
Minggu, 14 November 2021
BACAAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM PADA SHALAT WITIR
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah wa ba’du
Pada shalat Witir yang tiga rakaat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa membaca surah Al-A’la, Al-Kafirun, dan Al-Ikhlas. Pada rakaat pertama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca surah Al-A’la, pada rakaat kedua beliau membaca surah Al-Kafirun, dan pada rakaat ketiga beliau membaca surah Al-Ikhlas.
Sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, disebutkan:
“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Witir tiga rakaat dengan membaca: Sabbihisma rabbikal a’laa, qul yaa ayyuhal kaafiruun, dan qul huwallaahu ahad.” (HR. Ahmad (I/299), At-Tirmidzi (no. 462), An-Nasa’i (III/236), Ibnu Majah (no. 1172), dan selainnya)
Terkadang pada rakaat ketiga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menambahnya dengan surah Al-Falaq dan surah An-Naas. Sebagaimana hadis dari Abdul Aziz bin Juraij, ia berkata, kami pernah bertanya kepada Aisyah: “Dengan membaca surah apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat Witir?” 'Aisyah radhiallahu ‘anha menjawab
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَةِ اْلأُوْلَى : سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى، وَفِي رَكْعَةِ الثَّانِيَةِ :قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ ، وَفِي الثَّالِثَةِ : قُلْ هُوَ اللهُ أَحَد، وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ
"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca pada rakaat pertama dengan surat Al-A’laa, pada rakaat kedua dengan surat Al-Kafirun dan pada rakaat ketiga dengan surat Al-Ikhlas dan dua surat Mu’awidzatain (surat Al-Falaq dan surat An-Naas).” (HR. At-Tirmidzi dalam kitab Sunannya hadits no. 462 dan dihasankannya dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, (hadits no. 2432). Syaikh Albani rahimahullah berkata: Hadits ini shahih) (Lihat Shahiih Sunan At-Tirmidzi, (I/144))
******
Sumber: permatasunnah.com
Sabtu, 13 November 2021
MENGAMBIL UPAH DARI MENCUKUR JENGGOT ADALAH HARAM.
Fadhilah As-Syaikh Ibnu Baaz rahimahulllah:
Pertanyaan:
Sebagian pemilik salon cukur rambut mereka mencukur jenggot sebagian orang maka apa hukum harta yang mereka ambil dengan sebab pekerjaan mereka?
Jawaban:
Mencukur jenggot dan memangkasnya adalah diharamkan dan kemungkaran yang nyata, tidak boleh bagi seorang muslim melakukannya dan tidak boleh membantu atas itu, dan mengambil upah atas yang demikian adalah haram dan hasil yang haram, wajib bagi yang melakukannya untuk bertaubat kepada Allah darinya dan tidak mengulanginya, dan bersedekah disebabkan oleh apa yang dia dapatkan dari usahanya itu apabila dia mengetahui hukum Allah ta'ala tentang haramnya mencukur jenggot, dan jika dia jahil (tidak tahu) maka tidak ada dosa baginya atas apa yang telah lalu, dan wajib atasnya untuk waspada terhadap yang demikian di masa mendatang; berdasarkan firman Allah Azza wa Jalla tentang memakan riba:
(فَمَن جَاۤءَهُۥ مَوۡعِظَةࣱ مِّن رَّبِّهِۦ فَٱنتَهَىٰ فَلَهُۥ مَا سَلَفَ وَأَمۡرُهُۥۤ إِلَى ٱللَّهِۖ وَمَنۡ عَادَ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِیهَا خَـٰلِدُونَ) [سورة البقرة: 275]
"... Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah.* Barangsiapa mengulangi, maka mereka itu penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." (QS. Al-Baqarah: 275)
Dan di dalam dua kitab Shahih, dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma, dari nabi ﷺ bersabda:
«قُصُّوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى خَالِفُوا المُشْرِكِينَ»
"Cukurlah kumis-kumis kalian, biarkanlah jenggot-jenggot kalian (memanjang), dan selisihilah kaum musyrikin".
Dan di dalam shahih Muslim, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dari nabi ﷺ bersabda:
«جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ»
"Cukurlah kumis dan panjangkanlah jenggot. Selisihilah kaum Majusi."
Maka yang wajib bagi setiap muslim untuk menjalankan perintah Allah dalam membiarkan jenggot dan memeliharanya, dan mencukur kumis dan memotongnya, dan tidak sepantasnya bagi seorang muslim untuk tertipu dengan banyaknya orang yang menyelisihi sunnah ini dan menampakkan di hadapan Allah kemaksiatan.
Kita memohon kepada Allah hidayah bagi kaum muslimin pada setiap apa yang mengandung keridhaan-Nya, dan membantu mereka untuk taat kepada-Nya dan taat kepada Rasul-Nya ﷺ, dan agar mengaruniakan orang yang menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya berupa taubat nashuh kepada Tuhannya, dan bergegas kepada ketaatan kepada-Nya dan menjalankan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya ﷺ, sesungguhnya Dia maha mendengar lagi maha dekat. |«
***
http://binbaz.org.sa/fatawa/2011
--------------
أخذ الأجرة على حلق اللحى حرام - لفضيلة الشيخ ابن باز رحمه الله
▃▃▃▃▃▃▃
السؤال:
بعض أصحاب صالونات الحلاقة يحلقون لحى بعض الناس فما حكم المال الذي يأخذونه بسبب عملهم؟
الجواب:
حلق اللحى وقصها محرم ومنكر ظاهر، لا يجوز للمسلم فعله ولا الإعانة عليه، وأخذ الأجرة على ذلك حرام وسحت، يجب على من فعل ذلك التوبة إلى الله منه وعدم العودة إليه، والصدقة بما دخل عليه من ذلك إذا كان يعلم حكم الله سبحانه في تحريم حلق اللحى، فإن كان جاهلاً فلا حرج عليه فيما سلف، وعليه الحذر من ذلك مستقبلاً؛ لقول الله عز وجل في أكلة الربا: فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ[1]، وفي الصحيحين، عن ابن عمر رضي الله عنهما، عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: ((قصوا الشوارب وأعفوا اللحى خالفوا المشركين)) وفي صحيح البخاري، عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: ((قصوا الشوارب ووفروا اللحى خالفوا المشركين)) وفي صحيح مسلم، عن أبي هريرة رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: ((جزوا الشوارب وأرخوا اللحى خالفوا المجوس)) فالواجب على كل مسلم أن يمتثل أمر الله في إعفاء لحيته وتوفيرها، وقص الشارب وإحفائه، ولا ينبغي للمسلم أن يغتر بكثرة من خالف هذه السنة وبارز ربه بالمعصية.
_____________
Rabu, 10 November 2021
7 Kelakuan Negatif Suami
*7 Kelakuan Negatif Suami*
💔 Hati seorang istri amat terluka dengan tujuh kelakuan negatif suami sebagai berikut:
1. Pengkhianatan ranjang.
2. Pemberian gelar buruk.
3. Perkataan kasar.
4. Keluyuran berkepanjangan.
5. Ketidakadilan ketika poligami.
6. Kecemburuan over dosis.
7. Pemangkasan uang belanja.
✏️ Status Ustadz Zainal Abidin, Lc., M.M حفظه الله تعالى.
🗓 Diterbitkan Selasa, 14 Agustus 2020
📱 TG: @tausiyahbimbinganislam
_____________



