Al-Khathib Al-Baghdadi rahimahulah meriwayatkan :
أخبرنا القاضي أبو عبد الله الحسين بن علي بن محمد الصيمري قال أنبأنا عمر بن إبراهيم المقرئ قال نبأنا مكرم بن أحمد قال نبأنا عمر بن إسحاق بن إبراهيم قال نبأنا علي بن ميمون قال سمعت الشافعي يقول اني لأتبرك بأبي حنيفة وأجيء إلى قبره في كل يوم يعني زائرا فإذا عرضت لي حاجة صليت ركعتين وجئت إلى قبره وسألت الله تعالى الحاجة عنده فما تبعد عني حتى تقضى
Telah mengkhabarkan kepada kami Al-Qadli Abu ‘Abdillah Al-Husain bin ‘Ali bin Muhammad Ash-Shimari, ia berkata : Telah memberitakan kepada kamu ‘Umar bin Ibrahim Al-Muqri’, ia berkata : Telah memberitakan kepada kami Mukarram bin Ahmad, ia berkata : Telah memberitakan kepada kami ‘Umar bin Ishaq bin Ibrahim, ia berkata : Telah memberitakan kepada kami ‘Ali bin Maimun, ia berkata : Aku mendengar Asy-Syafi’i berkata : “Sesungguhnya aku akan ber-tabarruk dengan Abu Hanifah. Aku akan datang ke kuburnya setiap hari – yaitu untuk berziarah - . Apabila aku mempunyai satu hajat, aku pun shalat dua raka’at lalu datang ke kuburnya untuk berdo'a kepada Allah ta’ala tentang hajat tersebut disisinya. Maka tidak lama setelah itu, hajatku pun terpenuhi”.
(Taariikh Baghdaad 1/123).
Kisah ini seringkali dibawakan untuk melegalkan amalan tabarruk kepada orang yang telah meninggal. Namun kisah ini tidak shahih. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata :
فهذه رواية ضعيفة بل باطلة فإن عمر بن إسحاق بن إبراهيم غير معروف وليس له ذكر في شيء من كتب الرجال , و يحتمل أن يكون هو عمرو - بفتح العين - بن إسحاق بن إبراهيم بن حميد بن السكن أبو محمد التونسى و قد ترجمه الخطيب ( 12 / 226 ) . و ذكر أنه بخاري قدم بغداد حاجا سنة ( 341 ) و لم يذكر فيه جرحا و لا تعديلا فهو مجهول الحال , و يبعد أن يكون هو هذا إذ أن وفاة شيخه علي بن ميمون سنة ( 247 ) على أكثر الأقوال , فبين وفاتيهما نحو مائة سنة فيبعد أن يكون قد أدركه .
“Ini adalah riwayat yang lemah, bahkan bathil. ‘Umar bin Ishaq bin Ibrahim tidak dikenal, dan tidak disebutkan satupun dalam kitab-kitab rijaal. Kemungkinan ia adalah ‘Amr – dengan fathah pada huruf ‘ain – bin Ishaq bin Ibrahim bin Humaid bin As-Sakan Abu Muhammad At-Tunisi. Al-Khathib telah menyebutkan biografinya (dalamAt-Tariikh 12/226). Disebutkan bahwa ia orang Bukhara yang tiba di Baghdad pada perjalanan hajinya tahun 341 H. Tidak disebutkan padanya jarh maupun ta’dil, sehingga ia seorang yang berstatus majhuul haal. Namun kemungkinan ini jauh saat diketahui gurunya yang bernama ‘Ali bin Maimun wafat pada tahun 247 H menurut mayoritas pendapat. Maka diperoleh penjelasan kematian keduanya berjarak sekitar 100 tahun sehingga jauh kemungkinan ia bertemu dengannya (‘Ali bin Maimun)”.
(Silsilah Ad-Dla’iifah, 1/78).
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :
وهذا كذلك معلوم كذبه بالاضطرار عند من له معرفة بالنقل، فإن الشافعي لما قدم بغداد لم يكن ببغداد قبر ينتاب للدعاء عنده البتة، بل ولم يكن هذا على عهد الشافعي معروفا، وقد رأى الشافعي بالحجاز واليمن والشام والعراق ومصر من قبور الأنبياء والصحابة والتابعين، من كان أصحابها عنده وعند المسلمين، أفضل من أبي حنيفة، وأمثاله من العلماء. فما باله لم يتوخ الدعاء إلا عنده. ثم أصحاب أبي حنيفة الذين أدركوه، مثل أبي يوسف ومحمد وزفر والحسن بن زياد وطبقتهم، لم يكونوا يتحرون الدعاء، لا عند قبر أبي حنيفة ولا غيره.
“Dan hal ini demikian juga telah diketahui sebagai kebohongan secara pasti yang dilakukan oleh orang yang mengetahui seluk-beluk penukilan, karena Asy-Syafi’i saat tiba di Baghdad, tidak ada dikota tersebut kuburan yang dijadikan tempat khusus untuk berdo'a. Bahkan ini tidak terjadi dimasa Asy-Syafi’i. Asy-Syafi’i telah melihat kuburan para Nabi, para shahabat, dan tabi’in di Hijaaz, Yaman, Syam, dan ‘Iraq, yang mereka itu menurutnya (Asy-Syafi’i) dan kaum muslimin semuanya lebih utama dibandingkan Abu Hanifah dan yang semisalnya dari kalangan ulama. Lantas, bagaimana mungkin ia hanya menyengaja berdo'a disisi Abu Hanifah saja ? Kemudian para shahabat Abu Hanifah yang bertemu (semasa) dengannya seperti Abu Yusuf, Muhammad (bin Al-Hasan), Zufar, Al-Hasan bin Ziyad, dan yang setingkat dengan mereka tidaklah bermaksud berdo'a disisi kubur Abu Hanifah ataupun yang lainnya”.
(Iqtidlaa’ Ash-Shiraathil-Mustaqiim, 2/206).
Terkait dengan bahasan ini, Ibnul-Qayyim rahimahullah memberikan penjelasan yang cukup bagus :
فلو كان الدعاء عند القبور، والصلاة عندها، والتبرك بها فضيلة أو سنة أو مباحا، لفعل ذلك المهاجرين والأصار، وسنّوا ذلك لمن بعدهم، ولكن كانوا أعلم بالله ورسوله ودينه من الخلوف التي خلفت بعدهم، وكذلك التابعون لهم بإحسان راحوا على هذه السبيل، وقد كان عندهم من قبور أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم بالأمصار عدد كثير، وهم متوافرون، فما منهم من استغاث عند قبر صاحب، ولا دعاه، ولا دعا به، ولا دعا عنده، ولا استشقى به، ولا استسقى به، ولا استنصر به، ومن المعلوم أن مثل هذا مما تتوفّر الهمم على نقله، بل على نقل ما دونه.
“Seandainya berdo'a disisi kuburan, shalat disisinya, dan mencari berkah dengannya adalah suatu keutamaan atau sesuatu yang disunnahkan atau diperbolehkan; tentunya hal itu pernah dilakukan oleh kaum Muhajirin dan Anshar, dan mencontohkannya kepada generasi setelah mereka. Akan tetapi mereka adalah orang yang lebih mengetahui tentang Allah, Rasul-Nya, dan agama-Nya daripada orang - orang yang datang belakangan setelah mereka. Seperti itulah, orang - orang yang mengikuti mereka dengan baik (tabi’in) menempuh jalan ini, padahal disekitar mereka banyak terdapat makam para shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang berada diberbagai negeri dan jumlah mereka (tabi’in) pun cukup banyak. Namun, tidak ada seorang pun yang meminta pertolongan (istighatsah) disisi makam seorang shahabat, tidak juga berdo'a kepadanya, berdo'a dengan perantaraannya, berdo'a disisiya, meminta kesembuhan, meminta hujan, dan meminta pertolongan dengannya. Sebagaimana diketahui bahwa hal seperti ini termasuk sesuatu yang memiliki perhatian penuh untuk diriwayatkan, bahkan meriwayatkan hal yang lebih rendah daripada itu”.
(Ighaatsatul-Lahfaan, 1/204 dengan sedikit perubahan – dinukil melalui perantaraan At-Tabarruk, Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu oleh Dr. Naashir Al-Judai’, hal. 405).
Demikian risalah kecil ini dituliskan, semoga ada manfaatnya
Sources : Silsilah Adl-Dha’ifah oleh Al-Albani, Maktabah Al-Ma’arif, Cet. 1/1412, Riyadl; Tarikh Baghdad oleh Al-Khathib Al-Baghdadi, Darul-Kutub, Beirut;Iqtidha’ Ash-Shirathil-Mustaqim oleh Ibnu Taimiyyah, tahqiq : Dr. Nashir Al-‘Aql, Darul-‘Alamil-Kutub, Cet. 7/1419, Beirut; At-Tabarruk, Anwa’uhu wa Ahkamuhu oleh Dr. Nashir Al-Judai’, Maktabah Ar-Rusyd, Cet. Thn. 1411, Riyadh; dan Zahid Al-Kautsari wa Arauhul-I’tiqadiyyah, ‘Ardlun wa Naqdun oleh ‘Ali bin ‘Abdillah Al-Fahiid, hal. 242-244, Universitas Ummul-Qurra’ (Thesis Magister/S2), Makkah.
Sumber:
http://abuljauzaa.blogspot.com
Diarsipkan:
http://arie49.wordpress.com
http://ariedoank49.blogspot.com
Selasa, 16 Februari 2016
Derajat Hadits Do'a Sebelum Makan: “Allahumma Bariklana…
Dikeluarkan oleh Ath Thabrani dalam Ad Du’a [888],
حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْحَاقَ التُّسْتَرِيُّ، وَمُحَمَّدُ بْنُ أَبِي زُرْعَةَ الدِّمَشْقِيُّ، قَالَا: ثنا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى بْنِ سُمَيْعٍ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي الزُّعَيْزِعَةِ، حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ فِي الطَّعَامِ إِذَا قُرِّبَ إِلَيْهِ: «اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، بِسْمِ اللَّهِ»
“Al Husain bin Ishaq At Tustari dan Muhammad bin Abi Zur’ah Ad Dimasyqi, mereka berdua berkata, Hisyam bin ‘Ammarmengatakan kepadaku, Muhammad bin Isa bin Sumay’imengatakan kepadaku, Muhammad bin Abi Az Zu’aizi’ahmengatakan, ‘Amr bin Syu’aib mengatakan kepadaku, dari ayahnya (Syu’aib bin Muhammad As Sahmi), dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam:
Bahwa beliau ketika hendak makan dan hidangan didekatkan kepada beliau, beliau berdo'a:
"Allaahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa waqinaa ‘adzaabannaar".
Artinya: "Ya Allah berkahilah makanan yang telah engkau karuniakan kepada kami, dan jauhkanlah kami dari api neraka".
Juga dikeluarkan oleh Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah[457] dengan sanad yang sama.
Derajat hadits
Riwayat ini MUNKAR karena terdapat Muhammad bin Abi Az Zu’aizi’ah yang statusnya MUNKARUL HADITS.
Imam Al Bukhari mengatakan, “ia sangat munkarul hadits” (At Tarikh Al Kabir, 244). Abu Hatim mengatakan, “ia sangat munkarul hadits“. Beliau juga mengatakan: “jangan menyibukkan diri dengannya” (dinukil dari Lisanul Mizan, 7/137).Al Jurjani mengatakan, “ia sangat munkarul hadits, tidak ditulis haditsnya” (Al Kamil fid Dhu’afa, 7/426).Ibnu Hibban bahkan mengatakan: “ia termasuk diantara para Dajjal, ia meriwayatkan hadits - hadits palsu hingga akhir hayatnya” (dinukil dari Lisanul Mizan, 7/137).
Terdapat jalan lain untuk lafal do'a diatas. Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al Muwatha [3447], Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf [24512], Al Baihaqi dalam Al Asma’ wash Shifat [370],
عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ؛ أَنَّهُ كَانَ لاَ يُؤْتَى أَبَداً بِطَعَامٍ أَوْ شَرَابٍ، حَتَّى الدَّوَاءُ، فَيَطْعَمَهُ أَوْ يَشْرَبَهُ حَتَّى يَقُولَ: الْحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَانَا. وَأَطْعَمَنَا وَسَقَانَا. وَنَعَّمَنَا. اللهُ أَكْبَرُ. اللَّهُمَّ أَلْفَتْنَا نِعْمَتُكَ بِكُلِّ شَرٍّ. فَأَصْبَحْنَا مِنْهَا وَأَمْسَيْنَا بِكُلِّ خَيْرٍ. نَسْأَلُكَ تَمَامَهَا وَشُكْرَهَا. لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ. وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ. إِلَهَ الصَّالِحِينَ. وَرَبَّ الْعَالَمِينَ. الْحَمْدُ للهِ. وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. مَا شَاءَ اللهُ، وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا. وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya (‘Urwah bin Zubair bin Al ‘Awwam) bahwasanya tidaklah ia dihidangkan makanan atau minuman kecuali pasti ia berdo'a dengan beberapa do'a. Ia makan dan minum sesudah berdo'a:
"Alhamdulillaahilladzii hadaanaa wa ath’amnaa wa saqoona wa na’amnaa, Allaahu akbar. Allaahumma alfatnaa ni’matuka bikulli syarrin. fa ash-bahnaa minhaa wa amsaynaa bikulli syarrin. nas-aluka tamaamaha wa syukrohaa. laa khoyro illaa khoyruka. walaa ilaaha ghoyruka. ilaahas shoolihiin. wa robbal ‘alamiin. alhamdulillaah wa laa ilaaha illallah. waa syaa-allahu walaa quwwata illaa billaah. Allaahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa waqinaa ‘adzaabannaar".
Artinya: "Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita hidayah dan telah memberi kita makan dan telah memberi kita minum dan telah memberi kita nikmat. Allah Maha Besar. Ya Allah jauhkanlah nikmatMu ini dari segala keburukan. dan jadikanlah kami dipagi dan sore hari senantiasa dalam kebaikan. kami memohon nikmatMu yang sempurna dan kami memohon hidayah agar bisa bersyukur. tidak ada kebaikan kecuali dariMu. tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain diri-Mu, engkau Tuhannya orang - orang shalih, dan Tuhannya semesta alam. Segala puji bagi Allah dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Dan segala sesuatu atas kehendak Allah, dan tidak ada daya upaya melainkan atas izin Allah. Ya Allah berkahilah makanan yang telah engkau karuniakan kepada kami, dan jauhkanlah kami dari api neraka”.
Riwayat ini shahih namun do'a yang ada dalam riwayat ini tidak disandarkan kepada Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, melainkan kepada ‘Urwah bin Az Zubair. Dan ‘Urwah bin Az Zubair bin Al ‘Awwam adalah seorang tabi’in thabaqah ke tiga. Sedangkan perbuatan tabi’in bukanlah dalil.
Pada jalan yang lain, dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya [1313], Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman [5640], Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf [24509], Abu Nu’aim dalamHilyatul Auliya [1/70] semuanya dari jalan Sa’id Al Jurairiy,
، حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْجُرَيْرِيُّ، عَنْ أَبِي الْوَرْدِ، عَنِ ابْنِ أَعْبُدَ، قَالَ: قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ: «يَا ابْنَ أَعْبُدَ هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ الطَّعَامِ؟» قَالَ: قُلْتُ: وَمَا حَقُّهُ يَا ابْنَ أَبِي طَالِبٍ؟ قَالَ: «تَقُولُ بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا» ، قَالَ: وَتَدْرِي مَا شُكْرُهُ إِذَا فَرَغْتَ؟ قَالَ: قُلْتُ: وَمَا شُكْرُهُ؟ قَالَ: «تَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا»
“.. Sa’id Al Jurairiy mengatakan kepadaku, dari Abul Warad, dari Ibnu A’bud, ia berkata: Ali bin Abi Thalib bertanya kepadaku: ‘wahai Ibnu A’bud, apakah engkau tahu apakah hak makanan ?’. Aku pun berkata: ‘apa itu wahai Ibnu Abi Thalib ?’. Ia menjawab: ‘hendaknya ia berdo'a: Allaahumma baariklanaa fiimaa rozaqtanaa‘. Dan apakah engkau tahu apa bentuk syukur ketika selesai makan ?”. Aku berkata: ‘apa itu ?’. Beliau menjawab: ‘engkau berdo'a:"Alhamdulillahilladzii ath’amnaa wa saqoonaa‘”.
Riwayat ini juga dha'if (lemah) karena Ibnu A’bud majhul.
Ibnu Hajar mengatakan: “Ali bin A’bud, terkadang ia tidak disebut namanya dalam sanad, ia majhul”. (Taqribut Tahdzib, 4689).Ali bin Al Madini mengatakan: “ia tidak dikenal” (dinukil dariTahdzibul Kamal, 4025).
Dan riwayat ini juga tidak disandarkan kepada NabiShallallahu’alaihi wa sallam melainkan sahabat Ali bin Abi Thalibradhiallahu’anhu. Selain itu, lafadz do'a yang ada disini hanya “Allaahumma baariklanaa fiimaa rozaqtanaa” tanpa tambahan “waqinaa ‘adzaabannaar“.
Kesimpulan
Hadits do’a sebelum makan “Allaahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa waqinaa ‘adzaabannaar” adalah hadits yang munkar. Ia bukanlah do'a yang dituntunkan dan diajarkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Yang tepat ia berasal dariatsar Urwah bin Zubair bin Al ‘Awwam rahimahullah.
Do’a sebelum makan yang shahih dituntunkan dan diajarkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam adalah ucapan “bismillah” saja. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim dari sahabat ‘Amr bin Abi Salamah Radhiallahu ‘anhu:
كنتُ غلامًا في حجرِ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فكانت يدي تطيشُ في الصَّحفةِ . فقال لي رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : يا غلامُ إذا أكلتَ فقلْ : بسمِ اللهِ وكُلْ بيمينِك وكُلْ ممَّا يليك
“Dahulu ketika aku masih kecil pernah berada dirumah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Ketika itu kedua tanganku menyambangi piring - piring yang ada. Maka RasulullahShallallahu’alaihi wa sallam bersabda kepadaku: ‘wahai bocah, jika engkau hendak makan, ucapkanlah: bismillah. Dan makanlah dengan tangan kanan serta makanlah makanan yang terdekat‘”.
Wallahu a’lam.
Sumber:
https://kangaswad.wordpress.com/2016
Diarsipkan:
http://arie49.wordpress.com
http://ariedoank49.blogspot.com
حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْحَاقَ التُّسْتَرِيُّ، وَمُحَمَّدُ بْنُ أَبِي زُرْعَةَ الدِّمَشْقِيُّ، قَالَا: ثنا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى بْنِ سُمَيْعٍ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي الزُّعَيْزِعَةِ، حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ فِي الطَّعَامِ إِذَا قُرِّبَ إِلَيْهِ: «اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، بِسْمِ اللَّهِ»
“Al Husain bin Ishaq At Tustari dan Muhammad bin Abi Zur’ah Ad Dimasyqi, mereka berdua berkata, Hisyam bin ‘Ammarmengatakan kepadaku, Muhammad bin Isa bin Sumay’imengatakan kepadaku, Muhammad bin Abi Az Zu’aizi’ahmengatakan, ‘Amr bin Syu’aib mengatakan kepadaku, dari ayahnya (Syu’aib bin Muhammad As Sahmi), dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam:
Bahwa beliau ketika hendak makan dan hidangan didekatkan kepada beliau, beliau berdo'a:
"Allaahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa waqinaa ‘adzaabannaar".
Artinya: "Ya Allah berkahilah makanan yang telah engkau karuniakan kepada kami, dan jauhkanlah kami dari api neraka".
Juga dikeluarkan oleh Ibnu Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah[457] dengan sanad yang sama.
Derajat hadits
Riwayat ini MUNKAR karena terdapat Muhammad bin Abi Az Zu’aizi’ah yang statusnya MUNKARUL HADITS.
Imam Al Bukhari mengatakan, “ia sangat munkarul hadits” (At Tarikh Al Kabir, 244). Abu Hatim mengatakan, “ia sangat munkarul hadits“. Beliau juga mengatakan: “jangan menyibukkan diri dengannya” (dinukil dari Lisanul Mizan, 7/137).Al Jurjani mengatakan, “ia sangat munkarul hadits, tidak ditulis haditsnya” (Al Kamil fid Dhu’afa, 7/426).Ibnu Hibban bahkan mengatakan: “ia termasuk diantara para Dajjal, ia meriwayatkan hadits - hadits palsu hingga akhir hayatnya” (dinukil dari Lisanul Mizan, 7/137).
Terdapat jalan lain untuk lafal do'a diatas. Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al Muwatha [3447], Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf [24512], Al Baihaqi dalam Al Asma’ wash Shifat [370],
عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ؛ أَنَّهُ كَانَ لاَ يُؤْتَى أَبَداً بِطَعَامٍ أَوْ شَرَابٍ، حَتَّى الدَّوَاءُ، فَيَطْعَمَهُ أَوْ يَشْرَبَهُ حَتَّى يَقُولَ: الْحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَانَا. وَأَطْعَمَنَا وَسَقَانَا. وَنَعَّمَنَا. اللهُ أَكْبَرُ. اللَّهُمَّ أَلْفَتْنَا نِعْمَتُكَ بِكُلِّ شَرٍّ. فَأَصْبَحْنَا مِنْهَا وَأَمْسَيْنَا بِكُلِّ خَيْرٍ. نَسْأَلُكَ تَمَامَهَا وَشُكْرَهَا. لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ. وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ. إِلَهَ الصَّالِحِينَ. وَرَبَّ الْعَالَمِينَ. الْحَمْدُ للهِ. وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. مَا شَاءَ اللهُ، وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا. وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Dari Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya (‘Urwah bin Zubair bin Al ‘Awwam) bahwasanya tidaklah ia dihidangkan makanan atau minuman kecuali pasti ia berdo'a dengan beberapa do'a. Ia makan dan minum sesudah berdo'a:
"Alhamdulillaahilladzii hadaanaa wa ath’amnaa wa saqoona wa na’amnaa, Allaahu akbar. Allaahumma alfatnaa ni’matuka bikulli syarrin. fa ash-bahnaa minhaa wa amsaynaa bikulli syarrin. nas-aluka tamaamaha wa syukrohaa. laa khoyro illaa khoyruka. walaa ilaaha ghoyruka. ilaahas shoolihiin. wa robbal ‘alamiin. alhamdulillaah wa laa ilaaha illallah. waa syaa-allahu walaa quwwata illaa billaah. Allaahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa waqinaa ‘adzaabannaar".
Artinya: "Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita hidayah dan telah memberi kita makan dan telah memberi kita minum dan telah memberi kita nikmat. Allah Maha Besar. Ya Allah jauhkanlah nikmatMu ini dari segala keburukan. dan jadikanlah kami dipagi dan sore hari senantiasa dalam kebaikan. kami memohon nikmatMu yang sempurna dan kami memohon hidayah agar bisa bersyukur. tidak ada kebaikan kecuali dariMu. tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain diri-Mu, engkau Tuhannya orang - orang shalih, dan Tuhannya semesta alam. Segala puji bagi Allah dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Dan segala sesuatu atas kehendak Allah, dan tidak ada daya upaya melainkan atas izin Allah. Ya Allah berkahilah makanan yang telah engkau karuniakan kepada kami, dan jauhkanlah kami dari api neraka”.
Riwayat ini shahih namun do'a yang ada dalam riwayat ini tidak disandarkan kepada Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, melainkan kepada ‘Urwah bin Az Zubair. Dan ‘Urwah bin Az Zubair bin Al ‘Awwam adalah seorang tabi’in thabaqah ke tiga. Sedangkan perbuatan tabi’in bukanlah dalil.
Pada jalan yang lain, dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya [1313], Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman [5640], Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf [24509], Abu Nu’aim dalamHilyatul Auliya [1/70] semuanya dari jalan Sa’id Al Jurairiy,
، حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْجُرَيْرِيُّ، عَنْ أَبِي الْوَرْدِ، عَنِ ابْنِ أَعْبُدَ، قَالَ: قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ: «يَا ابْنَ أَعْبُدَ هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ الطَّعَامِ؟» قَالَ: قُلْتُ: وَمَا حَقُّهُ يَا ابْنَ أَبِي طَالِبٍ؟ قَالَ: «تَقُولُ بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا» ، قَالَ: وَتَدْرِي مَا شُكْرُهُ إِذَا فَرَغْتَ؟ قَالَ: قُلْتُ: وَمَا شُكْرُهُ؟ قَالَ: «تَقُولُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا»
“.. Sa’id Al Jurairiy mengatakan kepadaku, dari Abul Warad, dari Ibnu A’bud, ia berkata: Ali bin Abi Thalib bertanya kepadaku: ‘wahai Ibnu A’bud, apakah engkau tahu apakah hak makanan ?’. Aku pun berkata: ‘apa itu wahai Ibnu Abi Thalib ?’. Ia menjawab: ‘hendaknya ia berdo'a: Allaahumma baariklanaa fiimaa rozaqtanaa‘. Dan apakah engkau tahu apa bentuk syukur ketika selesai makan ?”. Aku berkata: ‘apa itu ?’. Beliau menjawab: ‘engkau berdo'a:"Alhamdulillahilladzii ath’amnaa wa saqoonaa‘”.
Riwayat ini juga dha'if (lemah) karena Ibnu A’bud majhul.
Ibnu Hajar mengatakan: “Ali bin A’bud, terkadang ia tidak disebut namanya dalam sanad, ia majhul”. (Taqribut Tahdzib, 4689).Ali bin Al Madini mengatakan: “ia tidak dikenal” (dinukil dariTahdzibul Kamal, 4025).
Dan riwayat ini juga tidak disandarkan kepada NabiShallallahu’alaihi wa sallam melainkan sahabat Ali bin Abi Thalibradhiallahu’anhu. Selain itu, lafadz do'a yang ada disini hanya “Allaahumma baariklanaa fiimaa rozaqtanaa” tanpa tambahan “waqinaa ‘adzaabannaar“.
Kesimpulan
Hadits do’a sebelum makan “Allaahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa waqinaa ‘adzaabannaar” adalah hadits yang munkar. Ia bukanlah do'a yang dituntunkan dan diajarkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Yang tepat ia berasal dariatsar Urwah bin Zubair bin Al ‘Awwam rahimahullah.
Do’a sebelum makan yang shahih dituntunkan dan diajarkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam adalah ucapan “bismillah” saja. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim dari sahabat ‘Amr bin Abi Salamah Radhiallahu ‘anhu:
كنتُ غلامًا في حجرِ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم فكانت يدي تطيشُ في الصَّحفةِ . فقال لي رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم : يا غلامُ إذا أكلتَ فقلْ : بسمِ اللهِ وكُلْ بيمينِك وكُلْ ممَّا يليك
“Dahulu ketika aku masih kecil pernah berada dirumah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Ketika itu kedua tanganku menyambangi piring - piring yang ada. Maka RasulullahShallallahu’alaihi wa sallam bersabda kepadaku: ‘wahai bocah, jika engkau hendak makan, ucapkanlah: bismillah. Dan makanlah dengan tangan kanan serta makanlah makanan yang terdekat‘”.
Wallahu a’lam.
Sumber:
https://kangaswad.wordpress.com/2016
Diarsipkan:
http://arie49.wordpress.com
http://ariedoank49.blogspot.com
Sabtu, 13 Februari 2016
BEBERAPA CONTOH HADITS PALSU DAN LEMAH DALAM KITAB ILYA’ ULU'MIDDIN.
Catatan untuk Kitab Ihya’ Ulumiddin.
Ihya’ Ulûmiddîn, sebuah nama kitab yang sangat tenar ditengah kaum Muslimin, dan begitu terkenal dipesantren-pesantren tradisional, bahkan dikenal bukan hanya di Indonesia tapi diseluruh dunia.
Kalau ditilik dari makna harfiyah Ihya’ Ulûmiddîn, kita dapati sebuah makna yang sangat agung. Betapa tidak, Ihya’ Ulûmiddîn yang disematkan oleh penyusun kitab ini sebagai judul karya tulisnya itu bermakna menghidupkan ilmu-ilmu agama. Keagungan makna ini tidak diingkari oleh siapapun yang memiliki iman dalam hatinya. Karena, dengan ilmu-ilmu agama yang diaplikasikan dalam kehidupan nyata, seseorang akan bisa selamat dari siksa dan murka Allâh Azza wa Jalla serta bisa masuk ke surga-Nya yang penuh kenikmatan abadi.
Namun apakah semua kandungan kitab Ihya’ Ulumiddin itu benar ?
Dalam peribahasa kita, ada ungkapan “Tidak ada gading yang tak retak”. Para Ulama juga telah menegaskan bahwa Allâh Azza wa Jalla tidak menetapkan keselamatan dari segala bentuk kesalahan kecuali untuk nabi-Nya dan tidak memberikan jaminan ‘bebas dari kesalahan’ untuk sebuah kitab kecuali untuk kitab-Nya, Al-Qur’ân. Kita juga tidak lupa dengan perkataan Imam Mâlik rahimahullah : “Semua perkataan orang bisa diterima atau ditolak kecuali perkataan penghuni kuburan ini (sambil memberi isyarat ke arah makam Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam )”.
Ini menuntut kita untuk memiliki sifat kritis dan lapang dada. Sifat kritis untuk menyaring semua info yang masuk ke kita dan sifat lapang dada untuk menerima segala bentuk kritikan ilmiah yang sampai ke kita.
Kitab yang sangat masyhur ini, ternyata tidak luput dari kesalahan, bahkan kesalahan fatal, karena terdapat kesalahan dalam masalah aqidah. Mungkin ada pertanyaan, siapakah kalian sehingga berani menyalahkan kitab tersohor ini beserta penulisnya yang sangat ternama itu ? Tentu, jawaban kami, bukan kami yang menyalahkan. Namun para Ulama Islam yang telah menjelaskan sisi-sisi kekeliruan dan kesalahannya, berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’ân dan Sunnah yang mereka kuasai. Itulah pesan yang ingin kami sampaikan agar umat mengetahui kesalahan-kesalahan tersebut lalu meninggalkannya, bukan untuk merendahkan apalagi mencela penulisnya. ‘Iyâdzan billâh.
Diantara kesalahan itu, ada yang berawal dari kesalahan dalil, karena ternyata yang menjadi dalilnya adalah hadits maudhû’ (hadits palsu), seperti hadits berikut :
الْحَدِيْثُ فِي الْمَسْجِدِ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ الْبَهَائِمُ الْحَشِيْشَ
"Percakapan dalam masjid akan memakan/menghapus (pahala) kebaikan seperti binatang ternak yang memakan rumput".
(Ihyâ’ Ulûmiddîn, 1/152, cet. Darul Ma’rifah, Beirut)
Keterangan : hadits ini dihukumi oleh Imam Al-‘Irâqi rahimahullah, As-Subki rahimahullah dan Syaikh Al-Albâni rahimahullah sebagai hadits palsu yang tidak ada asalnya dalam kitab-kitab hadits.
(Lihat Silsilatul Ahâdîtsidh Dha’îfah wal Maudhû’ah 1/60)
Juga hadits :
قَلِيْلُ التَّوْفِيْقِ خَيْرٌ مِنَ كَثِيْرِ الْعَقْلِ
"Taufik yang sedikit lebih baik dari ilmu yang banyak. (Ihyâ’ Ulûmiddîn, 1/31)
Hadits ini juga dihukumi oleh para ulama diatas sebagai sebagai hadits palsu yang tidak ada asalnya. (Thabaqâtusy Syâfi’iyyatil Kubrâ 6/287 dan Difâ’un ‘anil Hadîtsin Nabawi hlm. 46).
Ada sebagian orang mengatakan, “Meskipun maudhû’ (palsu) atau dha'îf, bukankah itu tetap merupakan sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Ucapan seperti ini menunjukkan orang yang melontarkannya belum memahami ilmu mustholah hadits dan belum menyadari bahaya dan ancaman besar akibat membuat atau ikut menyebarkan hadits palsu. Selain itu, kalau para ulama ahli hadits sudah menghukumi sebuah hadits sebagai hadits yang maudhû’ itu artinya berdasarkan penelitian mereka “hadits” itu bukan sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak boleh dinisbatkan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sehingga tidak bisa dijadikan sebagai landasan dalam beramal. Barangsiapa berani menisbatkan hadits maudhû’ (palsu) kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti dia telah berdusta atas nama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan terkena ancaman Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Jalan mewujudkan penghambaan diri kepada Allâh Azza wa Jalla hendaknya dengan mencukupkan diri dengan hadits yang shahîh dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Itulah jalan terbaik, Sebagaimana perkataan Imam Nawawi rahimahullah dalam mukaddimah Riyâdhus Shâlihîn. Setelah memaparkan tujuan penciptaan manusia, beliau rahimahullah mengatakan :
وأَصْوَبُ طريقٍ لهُ في ذَلِكَ ، وَأَرشَدُ مَا يَسْلُكُهُ مِنَ المسَالِكِ ، التَّأَدُّبُ بمَا صَحَّ عَنْ نَبِيِّنَا سَيِّدِ الأَوَّلينَ والآخرينَ ، وَأَكْرَمِ السَّابقينَ والَّلاحِقينَ
“Jalan yang paling benar dan terbaik bagi seorang mukallaf dalam beribadah, suluk terbaik yang dia lakukan yaitu beradab atau bertingkah laku dengan kandungan (riwayat-riwayat) yang shahîh dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ), sayyid orang terdahulu dan yang terakhir, manusia termulia pada zaman dahulu dan yang akan datang”.
Akhirnya, kami berdo'a, semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa membimbing kita untuk menempuh jalan yang diridhai dan dicintai-Nya. Amin
BEBERAPA CONTOH HADITS PALSU DAN LEMAH DALAM KITAB IHYA ULUMIDDIN.
Oleh Ustadz Abdullah bin Taslim Al-Buthoni, MA
1. Hadits :
الْحَدِيْثُ فِي الْمَسْجِدِ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ الْبَهَائِمُ الْحَشِيْشَ
"Percakapan dalam masjid akan memakan/menghapus (pahala) kebaikan seperti binatang ternak yang memakan rumput".
Keterangan : hadits ini dihukumi oleh Imam Al-‘Irâqi rahimahullah, As-Subki rahimahullah dan Syaikh Al-Albâni rahimaullah sebagai hadits palsu yang tidak ada asalnya dalam kitab-kitab hadits.
2. Hadits :
قَلِيْلُ التَّوْفِيْقِ خَيْرٌ مِنَ كَثِيْرِ الْعَقْلِ
"Taufik yang sedikit lebih baik dari ilmu yang banyak".
Hadits ini juga dihukumi oleh para ulama diatas sebagai sebagai hadits palsu yang tidak ada asalnya [4] .
3. Hadits :
بُنِىَ اْلدِّيْنُ عَلَى النَّظَافَةِ
"Agama Islam dibangun diatas kebersihan".
Hadits ini adalah hadits yang palsu, karena pada sanadnya ada perawi yang bernama ‘Umar bin Shubh al-Khurâsâni. Ibnu Hajar rahimahullah berkata tentangnya : “Dia adalah perawi yang matruk (ditinggalkan riwayatnya karena sangat lemah), bahkan (Imam Ishâq) bin Rahuyah mendustakannya”.
4. Hadits :
إِنَّ الْعَالِمَ يُعَذَّبُ عَذَابًا يَطِيْفُ بِهِ أَهْلُ النَّارِ
"Sesungguhnya orang yang berilmu akan disiksa (dalam neraka) dengan siksaan yang akan membuat sempit (susah) penduduk neraka".
Hadits ini dihukumi oleh Imam As-Subki rahimahullah sebagai hadits yang tidak ada asalnya.
5. Hadits :
شِرَارُ الْعُلَمَاءِ الَّذِيْنَ يَأْتُوْنَ الْأُمَرَاءَ وَخِيَارُ الْأُمَرَاءِ الَّذِيْنَ يَأْتُوْنَ الْعُلَمَاءَ
"Seburuk-buruk ulama adalah yang selalu mendatangi para penguasa (pemerintah) dan sebaik-sebaik penguasa adalah yang selalu mendatangi para ulama".
Hadits ini juga dihukumi oleh Imam As-Subki rahimahullah sebagai hadits yang tidak ada asalnya.
6. Hadits :
مَنْ قَالَ أَنَا مُؤْمِنٌ فَهُوَ كَافِرٌ وَمَنْ قَالَ أَنَا عَالِمٌ فَهُوَ جَاهِلٌ
"Barangsiapa berkata : ‘Aku adalah seorang mukmin’ maka dia kafir, dan barang siapa berkata: ‘Aku adalah orang yang berilmu’ maka dia adalah orang yang jahil (bodoh)”.
Hadits ini juga dihukumi oleh Imam As-Subki rahimahullahsebagai hadits yang tidak ada asalnya dan dinyatakan dha'if (lemah) oleh Imam As-Sakhâwi rahimahullah.
7. Hadits :
لَيْسَ لِلْعَبْدِ مِنْ صَلاَتِهِ إِلاَّ مَا عَقَلَ
"Seorang hamba tidak akan mendapatkan (keutamaan) dari shalatnya kecuali apa yang dipahaminya dari shalatnya".
Hadits ini juga dihukumi oleh Imam As-Subki rahimahullah sebagai hadits yang tidak ada asalnya".
8. Hadits :
أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللهُ الْعَقْلَ
"Sesuatu yang pertama kali Allâh Azza wa Jalla ciptakan adalah akal…”.
Hadits ini dihukumi oleh Imam Adz-Dzahabi rahimahullah dan Syaikh Al-Albâni rahimahullah sebagai hadits yang bathil dan palsu.
9. Hadits :
مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ وَرَثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
"Barangsiapa yang mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya, maka Allâh Azza wa Jalla akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya”.
Hadits ini dihukumi oleh Syaikh Al-Albâni rahimahullah sebagai hadits yang palsu.
10. Hadits :
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْقُلُوْا عَنْ رَبِّكُمْ وَتَوَاصَوْا بِالْعَقْلِ
“Wahai manusia, pahamilah (dengan akal) dari Rabb-mu dan saling berwasiatlah dengan akal”.
Hadits ini adalah hadits maudhu' (palsu), diriwayatkan oleh Dâwûd bin Al-Muhabbar dalam kitab Al-‘Aql yang dikatakan oleh Ibnu Hajar: “Dia adalah perawi yang matruk (ditinggalkan riwayatnya karena sangat lemah) dan kitab Al-‘Aql yang ditulisnya mayoritas berisi hadits-hadits yang palsu”.
11. Hadits tentang shalat Ar-Raghâib dibulan Rajab.
Hadits ini dihukumi sebagai hadits palsu oleh Imam Al-‘Iraqi.
(Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XV/1432H/2011. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196)
_______
Footnote
[1]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/152, cet. Darul ma’rifah, Beirut).
[2]. Silsilatul Ahâdîtsidh Dha’îfah wal Maudhû’ah 1/60
[3]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/31).
[4]. Thabaqâtusy Syâfi’iyyatil Kubrâ 6/287 dan Difâ’un ‘anil Hadîtsin Nabawi hlm. 46
[5]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/49).
[6]. Dalam Taqrîbut Tahdzîb hlm. 414
[7]. Lihat Silsilatul Ahâdîtsidh Dha’îfah wal Maudhû’ah no. 3264
[8]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/60).
[9]. Lihat Thabaqâtusy Syâfi’iyyatil Kubrâ 6/287
[10]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/68).
[11]. Lihat Thabaqâtusy Syâfi’iyyatil Kubrâ 6/288
[12]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/125).
[13]. Lihat Thabaqâtusy Syâfi’iyyatil Kubrâ 6/289
[14]. Lihat al-Maqâshidul Hasanah hlm. 663
[15]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/159).
[16]. Lihat Thabaqâtusy Syâfi’iyyatil Kubrâ 6/289
[17]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/83) dan (3/4).
[18]. Lihat Lisânul Mîzân 4/314 dan Takhrîju Ahâdîtsil Misykâh no. 5064
[19]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/71), (3/13) dan (3/23)
[20]. Silsilatul Ahâdîtsidh Dha’îfah wal Maudhû’ah no. 422
[21]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/202)
[22]. Dalam Taqrîbut Tahdzîb hlm. 200
[23]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/83)
[24]. Lihat takhrij beliau pada catatan kaki kitab tersebut (2/366, cet. Dar asy-Syi’ab, Kairo)
http://almanhaj.or.id
http://nahimunkar.com
Diarsipkan :
http://arie49.wordpress.com
http://ariedoank49.blogspot.com
Ihya’ Ulûmiddîn, sebuah nama kitab yang sangat tenar ditengah kaum Muslimin, dan begitu terkenal dipesantren-pesantren tradisional, bahkan dikenal bukan hanya di Indonesia tapi diseluruh dunia.
Kalau ditilik dari makna harfiyah Ihya’ Ulûmiddîn, kita dapati sebuah makna yang sangat agung. Betapa tidak, Ihya’ Ulûmiddîn yang disematkan oleh penyusun kitab ini sebagai judul karya tulisnya itu bermakna menghidupkan ilmu-ilmu agama. Keagungan makna ini tidak diingkari oleh siapapun yang memiliki iman dalam hatinya. Karena, dengan ilmu-ilmu agama yang diaplikasikan dalam kehidupan nyata, seseorang akan bisa selamat dari siksa dan murka Allâh Azza wa Jalla serta bisa masuk ke surga-Nya yang penuh kenikmatan abadi.
Namun apakah semua kandungan kitab Ihya’ Ulumiddin itu benar ?
Dalam peribahasa kita, ada ungkapan “Tidak ada gading yang tak retak”. Para Ulama juga telah menegaskan bahwa Allâh Azza wa Jalla tidak menetapkan keselamatan dari segala bentuk kesalahan kecuali untuk nabi-Nya dan tidak memberikan jaminan ‘bebas dari kesalahan’ untuk sebuah kitab kecuali untuk kitab-Nya, Al-Qur’ân. Kita juga tidak lupa dengan perkataan Imam Mâlik rahimahullah : “Semua perkataan orang bisa diterima atau ditolak kecuali perkataan penghuni kuburan ini (sambil memberi isyarat ke arah makam Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam )”.
Ini menuntut kita untuk memiliki sifat kritis dan lapang dada. Sifat kritis untuk menyaring semua info yang masuk ke kita dan sifat lapang dada untuk menerima segala bentuk kritikan ilmiah yang sampai ke kita.
Kitab yang sangat masyhur ini, ternyata tidak luput dari kesalahan, bahkan kesalahan fatal, karena terdapat kesalahan dalam masalah aqidah. Mungkin ada pertanyaan, siapakah kalian sehingga berani menyalahkan kitab tersohor ini beserta penulisnya yang sangat ternama itu ? Tentu, jawaban kami, bukan kami yang menyalahkan. Namun para Ulama Islam yang telah menjelaskan sisi-sisi kekeliruan dan kesalahannya, berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’ân dan Sunnah yang mereka kuasai. Itulah pesan yang ingin kami sampaikan agar umat mengetahui kesalahan-kesalahan tersebut lalu meninggalkannya, bukan untuk merendahkan apalagi mencela penulisnya. ‘Iyâdzan billâh.
Diantara kesalahan itu, ada yang berawal dari kesalahan dalil, karena ternyata yang menjadi dalilnya adalah hadits maudhû’ (hadits palsu), seperti hadits berikut :
الْحَدِيْثُ فِي الْمَسْجِدِ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ الْبَهَائِمُ الْحَشِيْشَ
"Percakapan dalam masjid akan memakan/menghapus (pahala) kebaikan seperti binatang ternak yang memakan rumput".
(Ihyâ’ Ulûmiddîn, 1/152, cet. Darul Ma’rifah, Beirut)
Keterangan : hadits ini dihukumi oleh Imam Al-‘Irâqi rahimahullah, As-Subki rahimahullah dan Syaikh Al-Albâni rahimahullah sebagai hadits palsu yang tidak ada asalnya dalam kitab-kitab hadits.
(Lihat Silsilatul Ahâdîtsidh Dha’îfah wal Maudhû’ah 1/60)
Juga hadits :
قَلِيْلُ التَّوْفِيْقِ خَيْرٌ مِنَ كَثِيْرِ الْعَقْلِ
"Taufik yang sedikit lebih baik dari ilmu yang banyak. (Ihyâ’ Ulûmiddîn, 1/31)
Hadits ini juga dihukumi oleh para ulama diatas sebagai sebagai hadits palsu yang tidak ada asalnya. (Thabaqâtusy Syâfi’iyyatil Kubrâ 6/287 dan Difâ’un ‘anil Hadîtsin Nabawi hlm. 46).
Ada sebagian orang mengatakan, “Meskipun maudhû’ (palsu) atau dha'îf, bukankah itu tetap merupakan sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Ucapan seperti ini menunjukkan orang yang melontarkannya belum memahami ilmu mustholah hadits dan belum menyadari bahaya dan ancaman besar akibat membuat atau ikut menyebarkan hadits palsu. Selain itu, kalau para ulama ahli hadits sudah menghukumi sebuah hadits sebagai hadits yang maudhû’ itu artinya berdasarkan penelitian mereka “hadits” itu bukan sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak boleh dinisbatkan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sehingga tidak bisa dijadikan sebagai landasan dalam beramal. Barangsiapa berani menisbatkan hadits maudhû’ (palsu) kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti dia telah berdusta atas nama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan terkena ancaman Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Jalan mewujudkan penghambaan diri kepada Allâh Azza wa Jalla hendaknya dengan mencukupkan diri dengan hadits yang shahîh dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Itulah jalan terbaik, Sebagaimana perkataan Imam Nawawi rahimahullah dalam mukaddimah Riyâdhus Shâlihîn. Setelah memaparkan tujuan penciptaan manusia, beliau rahimahullah mengatakan :
وأَصْوَبُ طريقٍ لهُ في ذَلِكَ ، وَأَرشَدُ مَا يَسْلُكُهُ مِنَ المسَالِكِ ، التَّأَدُّبُ بمَا صَحَّ عَنْ نَبِيِّنَا سَيِّدِ الأَوَّلينَ والآخرينَ ، وَأَكْرَمِ السَّابقينَ والَّلاحِقينَ
“Jalan yang paling benar dan terbaik bagi seorang mukallaf dalam beribadah, suluk terbaik yang dia lakukan yaitu beradab atau bertingkah laku dengan kandungan (riwayat-riwayat) yang shahîh dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ), sayyid orang terdahulu dan yang terakhir, manusia termulia pada zaman dahulu dan yang akan datang”.
Akhirnya, kami berdo'a, semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa membimbing kita untuk menempuh jalan yang diridhai dan dicintai-Nya. Amin
BEBERAPA CONTOH HADITS PALSU DAN LEMAH DALAM KITAB IHYA ULUMIDDIN.
Oleh Ustadz Abdullah bin Taslim Al-Buthoni, MA
1. Hadits :
الْحَدِيْثُ فِي الْمَسْجِدِ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ الْبَهَائِمُ الْحَشِيْشَ
"Percakapan dalam masjid akan memakan/menghapus (pahala) kebaikan seperti binatang ternak yang memakan rumput".
Keterangan : hadits ini dihukumi oleh Imam Al-‘Irâqi rahimahullah, As-Subki rahimahullah dan Syaikh Al-Albâni rahimaullah sebagai hadits palsu yang tidak ada asalnya dalam kitab-kitab hadits.
2. Hadits :
قَلِيْلُ التَّوْفِيْقِ خَيْرٌ مِنَ كَثِيْرِ الْعَقْلِ
"Taufik yang sedikit lebih baik dari ilmu yang banyak".
Hadits ini juga dihukumi oleh para ulama diatas sebagai sebagai hadits palsu yang tidak ada asalnya [4] .
3. Hadits :
بُنِىَ اْلدِّيْنُ عَلَى النَّظَافَةِ
"Agama Islam dibangun diatas kebersihan".
Hadits ini adalah hadits yang palsu, karena pada sanadnya ada perawi yang bernama ‘Umar bin Shubh al-Khurâsâni. Ibnu Hajar rahimahullah berkata tentangnya : “Dia adalah perawi yang matruk (ditinggalkan riwayatnya karena sangat lemah), bahkan (Imam Ishâq) bin Rahuyah mendustakannya”.
4. Hadits :
إِنَّ الْعَالِمَ يُعَذَّبُ عَذَابًا يَطِيْفُ بِهِ أَهْلُ النَّارِ
"Sesungguhnya orang yang berilmu akan disiksa (dalam neraka) dengan siksaan yang akan membuat sempit (susah) penduduk neraka".
Hadits ini dihukumi oleh Imam As-Subki rahimahullah sebagai hadits yang tidak ada asalnya.
5. Hadits :
شِرَارُ الْعُلَمَاءِ الَّذِيْنَ يَأْتُوْنَ الْأُمَرَاءَ وَخِيَارُ الْأُمَرَاءِ الَّذِيْنَ يَأْتُوْنَ الْعُلَمَاءَ
"Seburuk-buruk ulama adalah yang selalu mendatangi para penguasa (pemerintah) dan sebaik-sebaik penguasa adalah yang selalu mendatangi para ulama".
Hadits ini juga dihukumi oleh Imam As-Subki rahimahullah sebagai hadits yang tidak ada asalnya.
6. Hadits :
مَنْ قَالَ أَنَا مُؤْمِنٌ فَهُوَ كَافِرٌ وَمَنْ قَالَ أَنَا عَالِمٌ فَهُوَ جَاهِلٌ
"Barangsiapa berkata : ‘Aku adalah seorang mukmin’ maka dia kafir, dan barang siapa berkata: ‘Aku adalah orang yang berilmu’ maka dia adalah orang yang jahil (bodoh)”.
Hadits ini juga dihukumi oleh Imam As-Subki rahimahullahsebagai hadits yang tidak ada asalnya dan dinyatakan dha'if (lemah) oleh Imam As-Sakhâwi rahimahullah.
7. Hadits :
لَيْسَ لِلْعَبْدِ مِنْ صَلاَتِهِ إِلاَّ مَا عَقَلَ
"Seorang hamba tidak akan mendapatkan (keutamaan) dari shalatnya kecuali apa yang dipahaminya dari shalatnya".
Hadits ini juga dihukumi oleh Imam As-Subki rahimahullah sebagai hadits yang tidak ada asalnya".
8. Hadits :
أَوَّلُ مَا خَلَقَ اللهُ الْعَقْلَ
"Sesuatu yang pertama kali Allâh Azza wa Jalla ciptakan adalah akal…”.
Hadits ini dihukumi oleh Imam Adz-Dzahabi rahimahullah dan Syaikh Al-Albâni rahimahullah sebagai hadits yang bathil dan palsu.
9. Hadits :
مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ وَرَثَهُ اللهُ عِلْمَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
"Barangsiapa yang mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya, maka Allâh Azza wa Jalla akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya”.
Hadits ini dihukumi oleh Syaikh Al-Albâni rahimahullah sebagai hadits yang palsu.
10. Hadits :
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْقُلُوْا عَنْ رَبِّكُمْ وَتَوَاصَوْا بِالْعَقْلِ
“Wahai manusia, pahamilah (dengan akal) dari Rabb-mu dan saling berwasiatlah dengan akal”.
Hadits ini adalah hadits maudhu' (palsu), diriwayatkan oleh Dâwûd bin Al-Muhabbar dalam kitab Al-‘Aql yang dikatakan oleh Ibnu Hajar: “Dia adalah perawi yang matruk (ditinggalkan riwayatnya karena sangat lemah) dan kitab Al-‘Aql yang ditulisnya mayoritas berisi hadits-hadits yang palsu”.
11. Hadits tentang shalat Ar-Raghâib dibulan Rajab.
Hadits ini dihukumi sebagai hadits palsu oleh Imam Al-‘Iraqi.
(Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XV/1432H/2011. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196)
_______
Footnote
[1]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/152, cet. Darul ma’rifah, Beirut).
[2]. Silsilatul Ahâdîtsidh Dha’îfah wal Maudhû’ah 1/60
[3]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/31).
[4]. Thabaqâtusy Syâfi’iyyatil Kubrâ 6/287 dan Difâ’un ‘anil Hadîtsin Nabawi hlm. 46
[5]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/49).
[6]. Dalam Taqrîbut Tahdzîb hlm. 414
[7]. Lihat Silsilatul Ahâdîtsidh Dha’îfah wal Maudhû’ah no. 3264
[8]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/60).
[9]. Lihat Thabaqâtusy Syâfi’iyyatil Kubrâ 6/287
[10]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/68).
[11]. Lihat Thabaqâtusy Syâfi’iyyatil Kubrâ 6/288
[12]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/125).
[13]. Lihat Thabaqâtusy Syâfi’iyyatil Kubrâ 6/289
[14]. Lihat al-Maqâshidul Hasanah hlm. 663
[15]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/159).
[16]. Lihat Thabaqâtusy Syâfi’iyyatil Kubrâ 6/289
[17]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/83) dan (3/4).
[18]. Lihat Lisânul Mîzân 4/314 dan Takhrîju Ahâdîtsil Misykâh no. 5064
[19]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/71), (3/13) dan (3/23)
[20]. Silsilatul Ahâdîtsidh Dha’îfah wal Maudhû’ah no. 422
[21]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/202)
[22]. Dalam Taqrîbut Tahdzîb hlm. 200
[23]. Ihyâ’ Ulûmiddîn (1/83)
[24]. Lihat takhrij beliau pada catatan kaki kitab tersebut (2/366, cet. Dar asy-Syi’ab, Kairo)
http://almanhaj.or.id
http://nahimunkar.com
Diarsipkan :
http://arie49.wordpress.com
http://ariedoank49.blogspot.com
HUKUM MANDI JUNUB DENGAN MENGGUNAKAN AIR HANGAT
Oleh: Al Ustadz Ammi Nur Baits, Lc
Pertanyaan:
Apakah mandi junub memakai air hangat itu sah ?
Jawaban:
Bismmillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah.
Bagi orang Junub yang tidak memungkinkan untuk mandi dengan air dingin, dibolehkan menggunakan air hangat. Diantara dalil yang menunjukkan hal ini adalah Dari Aslam Al-Qurasyiy Al-‘Adawy, mantan budak 'Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu beliau bercerita:
ﺃَﻥَّ ﻋُﻤَﺮَ ﺑْﻦَ ﺍﻟْﺨَﻄَّﺎﺏِ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻐْﺘَﺴِﻞُ ﺑِﺎﻟْﻤَﺎﺀِ ﺍﻟْﺤَﻤِﻴﻢِ
“Sesungguhnya 'Umar dahulu mandi dari air yang hangat”.
(HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya 675, dan Ibnu Hajar mengatakan sanadnya shahih Fathul Bari, 1:299)
Ibnu Hajar menjelaskan:
ﻭﺃﻣﺎ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﺍﻟﺘﻄﻬﺮ ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﻤﺴﺨﻦ ﻓﺎﺗﻔﻘﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺟﻮﺍﺯﻩ ﺍﻻ ﻣﺎ ﻧﻘﻞ ﻋﻦ ﻣﺠﺎﻫﺪ
“Masalah bersuci dengan air hangat, para ulama sepakat bolehnya kecuali riwayat yang dinukil dari Mujahid”.
(Lihat: Fathul Bari, 1:299)
Kemudian diriwayatkan dari Atha’ bahwa beliau mendengar Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma mengatakan:
«ﻟَﺎ ﺑَﺄْﺱَ ﺃَﻥْ ﻳُﻐْﺘَﺴَﻞَ ﺑِﺎﻟْﺤَﻤِﻴﻢِ ﻭَﻳُﺘَﻮَﺿَّﺄُ ﻣِﻨْﻪُ»
“Boleh seseorang mandi atau wudhu' dengan air hangat”.
(HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya, 677).
Adapun hadits dari 'Aisyah Radhiyallahu ‘anha , yang mengatakan:
ﺩَﺧَﻞَ ﻋَﻠَﻲَّ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﻗَﺪْ ﺳَﺨَّﻨْﺖُ ﻣَﺎﺀً ﻓِﻲ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲِ ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻟَﺎ ﺗَﻔْﻌَﻠِﻲ ﻳَﺎ ﺣُﻤَﻴْﺮَﺍﺀُ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻳُﻮﺭِﺙُ ﺍﻟْﺒَﺮَﺹَ
"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam masuk menemuiku sementara saya telah menghangatkan air dengan sinar matahari. Maka beliau bersabda, “Jangan kamu lakukan itu wahai Humaira ('Aisyah) karena itu bisa menyebabkan penyakit sopak”.
Keterangan: hadits ini dhai'f (lemah) Disebutkan oleh Ad-Daraquthni [1:38], Ibnu Adi dalam Al-Kamil 3:912, dan Al-Baihaqi 1:6 dari jalan Khalid bin Ismail dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari 'Aisyah.
Tentang Khalid bin Ismail, Ibnu Adi berkomentar:
ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻀَﻊُ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚَ
“Dia telah memalsukan hadits”
Dalam sanad yang lain, hadits ini juga diriwayatkan dari jalur Wahb bin Wahb Abul Bukhtari dari Hisyam bin Urwah. Ibnu Adi mengatakan: “Wahb lebih buruk dari pada Khalid.”
Kesimpulannya: hadits ini tidak bisa jadi dalil karena statusnya hadits yang dha'if (lemah).
Demikian keterangan Ibnu Hajar di At-Talkhish Al-Habir , 1:21.
Dijawab oleh: Al Ustadz Ammi Nur Baits, Lc (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).
Al Ustadz Ammi Nur Baits Beliau adalah Alumni Madinah International University, Jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh. Saat ini, beliau aktif sebagai Dewan Pembina website pengusahamuslim.com, konsultasisyariah.com, dan Yufid.TV, serta mengasuh pengajian dibeberapa masjid disekitar kampus UGM.
Sumber:
https://konsultasisyariah.com/12274-mandi-junub-dengan-air-hangat.html
Diarsipkan oleh Abu Fina:
http://arie49.wordpress.com
http://ariedoank49.blogspot.com
Pertanyaan:
Apakah mandi junub memakai air hangat itu sah ?
Jawaban:
Bismmillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah.
Bagi orang Junub yang tidak memungkinkan untuk mandi dengan air dingin, dibolehkan menggunakan air hangat. Diantara dalil yang menunjukkan hal ini adalah Dari Aslam Al-Qurasyiy Al-‘Adawy, mantan budak 'Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu beliau bercerita:
ﺃَﻥَّ ﻋُﻤَﺮَ ﺑْﻦَ ﺍﻟْﺨَﻄَّﺎﺏِ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻐْﺘَﺴِﻞُ ﺑِﺎﻟْﻤَﺎﺀِ ﺍﻟْﺤَﻤِﻴﻢِ
“Sesungguhnya 'Umar dahulu mandi dari air yang hangat”.
(HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya 675, dan Ibnu Hajar mengatakan sanadnya shahih Fathul Bari, 1:299)
Ibnu Hajar menjelaskan:
ﻭﺃﻣﺎ ﻣﺴﺄﻟﺔ ﺍﻟﺘﻄﻬﺮ ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ ﺍﻟﻤﺴﺨﻦ ﻓﺎﺗﻔﻘﻮﺍ ﻋﻠﻰ ﺟﻮﺍﺯﻩ ﺍﻻ ﻣﺎ ﻧﻘﻞ ﻋﻦ ﻣﺠﺎﻫﺪ
“Masalah bersuci dengan air hangat, para ulama sepakat bolehnya kecuali riwayat yang dinukil dari Mujahid”.
(Lihat: Fathul Bari, 1:299)
Kemudian diriwayatkan dari Atha’ bahwa beliau mendengar Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma mengatakan:
«ﻟَﺎ ﺑَﺄْﺱَ ﺃَﻥْ ﻳُﻐْﺘَﺴَﻞَ ﺑِﺎﻟْﺤَﻤِﻴﻢِ ﻭَﻳُﺘَﻮَﺿَّﺄُ ﻣِﻨْﻪُ»
“Boleh seseorang mandi atau wudhu' dengan air hangat”.
(HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya, 677).
Adapun hadits dari 'Aisyah Radhiyallahu ‘anha , yang mengatakan:
ﺩَﺧَﻞَ ﻋَﻠَﻲَّ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﻗَﺪْ ﺳَﺨَّﻨْﺖُ ﻣَﺎﺀً ﻓِﻲ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲِ ، ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻟَﺎ ﺗَﻔْﻌَﻠِﻲ ﻳَﺎ ﺣُﻤَﻴْﺮَﺍﺀُ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻳُﻮﺭِﺙُ ﺍﻟْﺒَﺮَﺹَ
"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam masuk menemuiku sementara saya telah menghangatkan air dengan sinar matahari. Maka beliau bersabda, “Jangan kamu lakukan itu wahai Humaira ('Aisyah) karena itu bisa menyebabkan penyakit sopak”.
Keterangan: hadits ini dhai'f (lemah) Disebutkan oleh Ad-Daraquthni [1:38], Ibnu Adi dalam Al-Kamil 3:912, dan Al-Baihaqi 1:6 dari jalan Khalid bin Ismail dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari 'Aisyah.
Tentang Khalid bin Ismail, Ibnu Adi berkomentar:
ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻀَﻊُ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚَ
“Dia telah memalsukan hadits”
Dalam sanad yang lain, hadits ini juga diriwayatkan dari jalur Wahb bin Wahb Abul Bukhtari dari Hisyam bin Urwah. Ibnu Adi mengatakan: “Wahb lebih buruk dari pada Khalid.”
Kesimpulannya: hadits ini tidak bisa jadi dalil karena statusnya hadits yang dha'if (lemah).
Demikian keterangan Ibnu Hajar di At-Talkhish Al-Habir , 1:21.
Dijawab oleh: Al Ustadz Ammi Nur Baits, Lc (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).
Al Ustadz Ammi Nur Baits Beliau adalah Alumni Madinah International University, Jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh. Saat ini, beliau aktif sebagai Dewan Pembina website pengusahamuslim.com, konsultasisyariah.com, dan Yufid.TV, serta mengasuh pengajian dibeberapa masjid disekitar kampus UGM.
Sumber:
https://konsultasisyariah.com/12274-mandi-junub-dengan-air-hangat.html
Diarsipkan oleh Abu Fina:
http://arie49.wordpress.com
http://ariedoank49.blogspot.com
Jumat, 12 Februari 2016
SHOLAT SUNNAH RAWATIB
Shalat sunnah Rawatib (yang berada sebelum dan setelah shalat wajib). Ada tiga hadits yang menjelaskan jumlah shalat sunnah rawatib beserta letak-letaknya:
1. Dari Ummu Habibah isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
“Tidaklah seorang muslim mendirikan shalat sunnah ikhlas karena Allah sebanyak dua belas raka'at (12 raka'at) selain shalat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah disurga”.
(HR. Muslim no.728)
Dan dalam riwayat At-Tirmidzi dan An-Nasa'i, ditafsirkan ke-12 raka'at tersebut. Beliau bersabda:
مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ
“Barangsiapa menjaga dalam mengerjakan shalat sunnah dua belas raka'at, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya disurga, yaitu empat raka'at sebelum Dzhuhur, dua raka'at setelah Dzhuhur, dua raka'at setelah Maghrib, dua raka'at setelah Isya` dan dua raka'at sebelum Shubuh”.
(HR. At-Tirmidzi no.379 dan An-Nasai no.1772 dari 'Aisyah).
2. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radliyallahu ‘anhu dia berkata:
حَفِظْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ
“Aku menghafal sesuatu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa shalat sunnat sepuluh raka’at yaitu; dua raka’at sebelum shalat Dzhuhur, dua raka’at sesudahnya, dua raka’at sesudah shalat Maghrib dirumah beliau, dua raka’at sesudah shalat Isya’ dirumah beliau, dan dua raka’at sebelum shalat Shubuh”.
(HR. Al-Bukhari no.937, 1165, 1173, 1180 dan Muslim no.729)
Dalam sebuah riwayat keduanya, “Dua raka'at setelah Jum'at”.
Dalam riwayat Muslim, “Adapun pada shalat Maghrib, Isya', dan Jum’at, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan shalat sunnah rawatibnya dirumah".
3. Dari Ibnu 'Umar dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا
“Semoga Allah merahmati seseorang yang mengerjakan shalat (sunnah) empat raka’at sebelum Ashar”.
(HR. Abu Daud no.1271 dan At-Tirmidzi no.430)
Sebagian ulama mengatakan yang dimaksud sholat sunnah empat raka'at sebelum Ashar dalam hadits ini adalah sholat sunnah mutlak
Maka dari sini kita bisa mengetahui bahwa shalat sunnah rawatib adalah:
A. Dua raka'at (2 raka'at) sebelum Shubuh, dan sunnahnya dikerjakan dirumah.
B. Empat raka'at (4 raka'at) sebelum Dzhuhur.
C. Dua raka'at (2 raka'at) setelah Dzhuhur
D. Dua raka'at (2 raka'at) setelah Jum'at.
E. Dua raka'at (2 raka'at) setelah Maghrib, dan sunnahnya dikerjakan dirumah.
F. Dua raka'at (2 raka'at) setelah Isya', dan sunnahnya dikerjakan dirumah.
Lalu apa hukum shalat sunnah setelah Shubuh, sebelum Jum'at, setelah Ashar, sebelum Maghrib, dan sebelum Isya' ?
Jawab:
Adapun dua rakaat sebelum Maghrib dan sebelum Isya', maka dia tetap disunnahkan dengan dalil umum:
Dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzani dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ قَالَهَا ثَلَاثًا قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ
“Diantara setiap dua adzan (adzan dan iqamah) itu ada shalat (sunnah)”. Beliau mengulanginya hingga tiga kali. Dan pada kali yang ketiga beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang mau mengerjakannya”.
(HR. Al-Bukhari no.588 dan Muslim no.1384)
Adapun setelah Shubuh dan Ashar, maka tidak ada shalat sunnah rawatib saat itu. Bahkan terlarang untuk shalat sunnah mutlak pada waktu itu, karena kedua waktu itu termasuk dari lima waktu terlarang.
Dari Ibnu ‘Abbas dia berkata:
شَهِدَ عِنْدِي رِجَالٌ مَرْضِيُّونَ وَأَرْضَاهُمْ عِنْدِي عُمَرُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَشْرُقَ الشَّمْسُ وَبَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ
“Orang-orang yang diridhai mempersaksikan kepadaku dan diantara mereka yang paling aku ridhai adalah ‘Umar, (mereka semua mengatakan) bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat setelah Shubuh hingga matahari terbit, dan setelah ‘Ashar sampai matahari terbenam”.
(HR. Al-Bukhari no.547 dan Muslim no.1367)
http://uowics.com/view-pembahasan-lengkap-shalat-sunnah-rawatib-al-atsariyyahcom_aHR0cDovL2FsLWF0c2FyaXl5YWguY29tL3BlbWJhaGFzYW4tbGVuZ2thcC1zaGFsYXQtc3VubmFoLXJhd2F0aWIuaHRtbA==.html
Diarsipkan:
http://arie49.wordpress.com
http://ariedoank49.blogspot.com
1. Dari Ummu Habibah isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
“Tidaklah seorang muslim mendirikan shalat sunnah ikhlas karena Allah sebanyak dua belas raka'at (12 raka'at) selain shalat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah disurga”.
(HR. Muslim no.728)
Dan dalam riwayat At-Tirmidzi dan An-Nasa'i, ditafsirkan ke-12 raka'at tersebut. Beliau bersabda:
مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ
“Barangsiapa menjaga dalam mengerjakan shalat sunnah dua belas raka'at, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya disurga, yaitu empat raka'at sebelum Dzhuhur, dua raka'at setelah Dzhuhur, dua raka'at setelah Maghrib, dua raka'at setelah Isya` dan dua raka'at sebelum Shubuh”.
(HR. At-Tirmidzi no.379 dan An-Nasai no.1772 dari 'Aisyah).
2. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radliyallahu ‘anhu dia berkata:
حَفِظْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ
“Aku menghafal sesuatu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa shalat sunnat sepuluh raka’at yaitu; dua raka’at sebelum shalat Dzhuhur, dua raka’at sesudahnya, dua raka’at sesudah shalat Maghrib dirumah beliau, dua raka’at sesudah shalat Isya’ dirumah beliau, dan dua raka’at sebelum shalat Shubuh”.
(HR. Al-Bukhari no.937, 1165, 1173, 1180 dan Muslim no.729)
Dalam sebuah riwayat keduanya, “Dua raka'at setelah Jum'at”.
Dalam riwayat Muslim, “Adapun pada shalat Maghrib, Isya', dan Jum’at, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan shalat sunnah rawatibnya dirumah".
3. Dari Ibnu 'Umar dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا
“Semoga Allah merahmati seseorang yang mengerjakan shalat (sunnah) empat raka’at sebelum Ashar”.
(HR. Abu Daud no.1271 dan At-Tirmidzi no.430)
Sebagian ulama mengatakan yang dimaksud sholat sunnah empat raka'at sebelum Ashar dalam hadits ini adalah sholat sunnah mutlak
Maka dari sini kita bisa mengetahui bahwa shalat sunnah rawatib adalah:
A. Dua raka'at (2 raka'at) sebelum Shubuh, dan sunnahnya dikerjakan dirumah.
B. Empat raka'at (4 raka'at) sebelum Dzhuhur.
C. Dua raka'at (2 raka'at) setelah Dzhuhur
D. Dua raka'at (2 raka'at) setelah Jum'at.
E. Dua raka'at (2 raka'at) setelah Maghrib, dan sunnahnya dikerjakan dirumah.
F. Dua raka'at (2 raka'at) setelah Isya', dan sunnahnya dikerjakan dirumah.
Lalu apa hukum shalat sunnah setelah Shubuh, sebelum Jum'at, setelah Ashar, sebelum Maghrib, dan sebelum Isya' ?
Jawab:
Adapun dua rakaat sebelum Maghrib dan sebelum Isya', maka dia tetap disunnahkan dengan dalil umum:
Dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzani dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ قَالَهَا ثَلَاثًا قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ
“Diantara setiap dua adzan (adzan dan iqamah) itu ada shalat (sunnah)”. Beliau mengulanginya hingga tiga kali. Dan pada kali yang ketiga beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang mau mengerjakannya”.
(HR. Al-Bukhari no.588 dan Muslim no.1384)
Adapun setelah Shubuh dan Ashar, maka tidak ada shalat sunnah rawatib saat itu. Bahkan terlarang untuk shalat sunnah mutlak pada waktu itu, karena kedua waktu itu termasuk dari lima waktu terlarang.
Dari Ibnu ‘Abbas dia berkata:
شَهِدَ عِنْدِي رِجَالٌ مَرْضِيُّونَ وَأَرْضَاهُمْ عِنْدِي عُمَرُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَشْرُقَ الشَّمْسُ وَبَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ
“Orang-orang yang diridhai mempersaksikan kepadaku dan diantara mereka yang paling aku ridhai adalah ‘Umar, (mereka semua mengatakan) bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat setelah Shubuh hingga matahari terbit, dan setelah ‘Ashar sampai matahari terbenam”.
(HR. Al-Bukhari no.547 dan Muslim no.1367)
http://uowics.com/view-pembahasan-lengkap-shalat-sunnah-rawatib-al-atsariyyahcom_aHR0cDovL2FsLWF0c2FyaXl5YWguY29tL3BlbWJhaGFzYW4tbGVuZ2thcC1zaGFsYXQtc3VubmFoLXJhd2F0aWIuaHRtbA==.html
Diarsipkan:
http://arie49.wordpress.com
http://ariedoank49.blogspot.com
SUNNAH YANG BANYAK DITINGGALKAN…
Mungkin banyak diantara kaum muslimin yang tidak mengamalkan sunnah ini atau bahkan tidak kenal dengan sunnah ini sama sekali, padahal dahulu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam selalu membacanya dalam shalat sebelum salam.
Sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu mengatakan: “Bacaan paling akhir yang dibaca Beliau diantara tasyahud dan salam adalah:
اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Allahummagh-firlii maa qod-damtu wa maa akh-khortu, ea maa asrortu wa maa a'lantu, wa maa asroqtu wa maa anta a'lamu bihi minnii, antal-moqoddimu wa antal-miakh-khiru, laa ilaaha illaa anta
(Ya Allah, ampunilah aku, karena dosa yang kulakukan dahulu dan yang kulakukan belakangan, dosa yang kusembunyikan dan yang kutampakkan, dosa dari perbuatanku yang melampui batas dan dosa yang Engkau lebih tahu daripada diriku. Engkaulah Dzat yang mendahulukan dan yang mengakhirkan, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau)
[HR. Muslim: 771].
Kalau Anda sudah menghapalnya, maka mulailah untuk mempraktekkannya. Beliau yang ma'shum saja selalu membaca do’a ini, bagaimana dengan kita.
Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى
Sumber :
http://bbg-alilmu.com/archives/16759
Diarsipkan :
http://arie49.wordpress.com
http://ariedoank49.blogspot.com
Sahabat Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu mengatakan: “Bacaan paling akhir yang dibaca Beliau diantara tasyahud dan salam adalah:
اللهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Allahummagh-firlii maa qod-damtu wa maa akh-khortu, ea maa asrortu wa maa a'lantu, wa maa asroqtu wa maa anta a'lamu bihi minnii, antal-moqoddimu wa antal-miakh-khiru, laa ilaaha illaa anta
(Ya Allah, ampunilah aku, karena dosa yang kulakukan dahulu dan yang kulakukan belakangan, dosa yang kusembunyikan dan yang kutampakkan, dosa dari perbuatanku yang melampui batas dan dosa yang Engkau lebih tahu daripada diriku. Engkaulah Dzat yang mendahulukan dan yang mengakhirkan, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau)
[HR. Muslim: 771].
Kalau Anda sudah menghapalnya, maka mulailah untuk mempraktekkannya. Beliau yang ma'shum saja selalu membaca do’a ini, bagaimana dengan kita.
Musyaffa’ ad Dariny, حفظه الله تعالى
Sumber :
http://bbg-alilmu.com/archives/16759
Diarsipkan :
http://arie49.wordpress.com
http://ariedoank49.blogspot.com
Kamis, 11 Februari 2016
Mengeringkan Anggota Badan Setelah Berwudhu, Bolehkah ?
Sebagian orang menganggap bahwa kita tidak boleh mengeringkan anggota badan setelah berwudhu' dengan handuk, kain, dan sejenisnya karena akan terluput dari keutamaan wudhu' sebagaimana dijelaskan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut ini:
ﺇِﺫَﺍ ﺗَﻮَﺿَّﺄَ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢُ – ﺃَﻭِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦُ – ﻓَﻐَﺴَﻞَ ﻭَﺟْﻬَﻪُ ﺧَﺮَﺝَ ﻣِﻦْ ﻭَﺟْﻬِﻪِ ﻛُﻞُّ ﺧَﻄِﻴﺌَﺔٍ ﻧَﻈَﺮَ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ﺑِﻌَﻴْﻨَﻴْﻪِ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ – ﺃَﻭْ ﻣَﻊَ ﺁﺧِﺮِ ﻗَﻄْﺮِ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ - ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻏَﺴَﻞَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﺧَﺮَﺝَ ﻣِﻦْ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻛُﻞُّ ﺧَﻄِﻴﺌَﺔٍ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻄَﺸَﺘْﻬَﺎ ﻳَﺪَﺍﻩُ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ ﺃَﻭْ ﻣَﻊَ ﺁﺧِﺮِ ﻗَﻄْﺮِ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ - ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻏَﺴَﻞَ ﺭِﺟْﻠَﻴْﻪِ ﺧَﺮَﺟَﺖْ ﻛُﻞُّ ﺧَﻄِﻴﺌَﺔٍ ﻣَﺸَﺘْﻬَﺎ ﺭِﺟْﻠَﺎﻩُ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ – ﺃَﻭْ ﻣَﻊَ ﺁﺧِﺮِ ﻗَﻄْﺮِ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ – ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺨْﺮُﺝَ ﻧَﻘِﻴًّﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺬُّﻧُﻮﺏِ
“Jika seorang hamba yang muslim atau mukmin berwudhu', ketika dia membasuh wajahnya, maka keluarlah dari wajahnya tersebut semua kesalahan yang dilakukan oleh pandangan matanya bersama dengan (tetesan) air atau tetesan air terakhir (yang mengalir darinya). Ketika dia membasuh kedua tangannya, maka keluarlah dari kedua tangannya tersebut semua kesalahan yang dilakukan oleh kedua tangannya bersama dengan (tetesan) air atau tetesan air terakhir (yang mengalir darinya). Ketika dia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah dari kedua kakinya tersebut semua kesalahan yang dilakukan (dilangkahkan) oleh kedua kakinya, bersama dengan (tetesan) air atau tetesan air terakhir (yang mengalir darinya), sehingga dia keluar dalam keadaan bersih dari dosa (yaitu dosa kecil, pen)”.
(HR. Muslim no. 244).
Mereka beranggapan, jika air bekas wudhu' yang masih menempel dianggota badan dikeringkan, maka mereka tidak bisa mendapatkan keutamaan dibersihkan dari dosa (kesalahan) bersamaan dengan tetesan air wudhu' yang terakhir.
Benarkah anggapan semacam ini ?
Berkenaan dengan masalah ini, terdapat perselisihan pendapat dikalangan para ulama tentang hukum mengeringkan anggota badan setelah berwudhu'.
Pendapat pertama menyatakan bahwa hukumnya makruh. Para ulama yang berpendapat seperti ini berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Maimunah Radhiyallahu ‘anha ketika menggambarkan tata cara mandi wajib (mandi janabah) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadits tersebut Maimunah Radhiyallahu ‘anha mengatakan:
ﺛُﻢَّ ﺃَﺗَﻴْﺘُﻪُ ﺑِﺎﻟْﻤِﻨْﺪِﻳﻞِ ﻓَﺮَﺩَّﻩُ
“Kemudian aku ambilkan kain untuk beliau, namun beliau menolaknya ”.
(Muttafaq ‘alaihi. Lafadz hadits ini milik Muslim no. 317).
Namun hadits ini tidaklah menunjukkan hukum makruh mengeringkan anggota badan setelah wudhu'. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menggunakan handuk setelah mandi, tidaklah menunjukkan bahwa itu dibenci.
Pendapat kedua menyatakan bahwa hukumnya mubah (boleh), baik setelah berwudhu' atau setelah mandi. Banyak ulama yang berpendapat bolehnya menyeka anggota wudhu' dengan handuk atau semisalnya. Diantaranya adalah 'Utsman bin Affan, Anas bin Malik, Hasan bin Ali, Hasan Al-Basri, Ibnu Sirin, Asy-Sya’bi, Ishaq bin Rahawaih, Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad, dan salah satu pendapat Madzhab Imam Asy-Syafi'i. Ini juga berdasarkan riwayat dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu 'anhuma.
Dalil yang menguatkan pendapat kedua ini adalah:
Pertama, hadits dari 'Aisyah Radhiyallahu ‘anha , beliau mengatakan:
ﻛَﺎﻥَ ﻟِﺮَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺧِﺮْﻗَﺔٌ ﻳُﻨَﺸِّﻒُ ﺑِﻬَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟﻮُﺿُﻮﺀِ
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kain yang beliau gunakan untuk mengeringkan anggota badan setelah berwudhu' ”.
(HR. At-Tirmidzi no. 53, An-Nasa'i dalam Al-Kuna dengan sanad shahih. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ , 4706).
Kedua: hadits yang diriwayatkan oleh Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺗَﻮَﺿَّﺄَ، ﻓَﻘَﻠَﺐَ ﺟُﺒَّﺔَ ﺻُﻮﻑٍ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ، ﻓَﻤَﺴَﺢَ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﺟْﻬَﻪُ
“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu', kemudian membalik jubah wol beliau dan mengusap wajahnya dengannya (bagian dalam jubahnya, pen.)”.
(HR. Ibn Majah 468. Fuad Abdul Baqi mengatakan: dalam Zawaid sanadnya shahih dan perawinya tsiqat. Syaikh Al-Albani menilai hasan [baik]).
Para ulama yang membolehkan berargumentasi bahwa hadits Maimunah Radhiyallahu ‘anha diatas tidak bisa digunakan sebagai dasar makruhnya mengeringkan anggota badan setelah berwudhu' atau mandi. Hal ini karena penolakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut mengandung banyak kemungkinan, misalnya karena kainnya yang kotor (tidak bersih), atau beliau tidak ingin kain tersebut basah terkena air, atau alasan - alasan lainnya. Selain itu, hadits Maimunah Radhiyallahu ‘anha ini justru mengisyaratkan bahwa diantara kebiasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau biasa mengeringkan anggota badan setelah berwudhu' sehingga Maimunah pun menyiapkan kain untuk beliau. Isyarat ini dikuatkan oleh hadits ‘Asiyah Radhiyallahu ‘anha yang menyatakan bahwa beliau memiliki kain khusus yang biasa beliau gunakan untuk menyeka air setelah berwudhu'.
Kesimpulan:
Pendapat yang lebih rajih (kuat) adalah bahwa mengeringkan atau menyeka anggota badan setelah berwudhu' hukumnya BOLEH (MUBAH) dan tidak makruh.
Syaikh Abu Malik mengatakan: ”Boleh mengeringkan anggota badan setelah berwudhu' karena tidak adanya dalil yang melarang hal tersebut, sehingga hukum asalnya adalah boleh (mubah)".
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang mengabarkan tentang keutamaan berwudhu' dalam hadits riwayat Muslim diatas sehingga beliau adalah orang yang paling paham dalam masalah ini dan paling paham bagaimanakah cara meraih keutamaannya. Oleh karena itu, antara terhapusnya dosa bersamaan dengan tetesan air wudhu' yang terahir dengan mengeringkan anggota badan setelah berwudhu', tidaklah saling bertentangan.
Wallahu a’lam.
Catatan kaki:
[1] Lihat Shifat Wudhu’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Fahd bin Abdurrahman Ad-Dausri, hal. 42-43.
[2]. Lihat Shahih Fiqh Sunnah 1/127.
[3]. Shahih Fiqh Sunnah 1/126.
(Pertanyaan yang dijawab oleh Al-Ustadz Ammi Nur Baits, Lc dewan pembina konsultasisyariah.com/)
Al-Ustadz Ammi Nur Baits, Lc Beliau adalah Alumni Madinah International University, Jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh. Saat ini, beliau aktif sebagai Dewan Pembina website pengusahamuslim.com, konsultasisyariah.com, dan Yufid.TV, serta mengasuh pengajian dibeberapa masjid disekitar kampus UGM.
Sumber:
http://www.konsultasisyariah.com/
http://muslim.or.id
Diarsipkan oleh Abu Fina:
http://arie49.wordpress.com
http://arie.doank49.blogspot.com
ﺇِﺫَﺍ ﺗَﻮَﺿَّﺄَ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻢُ – ﺃَﻭِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦُ – ﻓَﻐَﺴَﻞَ ﻭَﺟْﻬَﻪُ ﺧَﺮَﺝَ ﻣِﻦْ ﻭَﺟْﻬِﻪِ ﻛُﻞُّ ﺧَﻄِﻴﺌَﺔٍ ﻧَﻈَﺮَ ﺇِﻟَﻴْﻬَﺎ ﺑِﻌَﻴْﻨَﻴْﻪِ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ – ﺃَﻭْ ﻣَﻊَ ﺁﺧِﺮِ ﻗَﻄْﺮِ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ - ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻏَﺴَﻞَ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﺧَﺮَﺝَ ﻣِﻦْ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﻛُﻞُّ ﺧَﻄِﻴﺌَﺔٍ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻄَﺸَﺘْﻬَﺎ ﻳَﺪَﺍﻩُ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ ﺃَﻭْ ﻣَﻊَ ﺁﺧِﺮِ ﻗَﻄْﺮِ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ - ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻏَﺴَﻞَ ﺭِﺟْﻠَﻴْﻪِ ﺧَﺮَﺟَﺖْ ﻛُﻞُّ ﺧَﻄِﻴﺌَﺔٍ ﻣَﺸَﺘْﻬَﺎ ﺭِﺟْﻠَﺎﻩُ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ – ﺃَﻭْ ﻣَﻊَ ﺁﺧِﺮِ ﻗَﻄْﺮِ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ – ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺨْﺮُﺝَ ﻧَﻘِﻴًّﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺬُّﻧُﻮﺏِ
“Jika seorang hamba yang muslim atau mukmin berwudhu', ketika dia membasuh wajahnya, maka keluarlah dari wajahnya tersebut semua kesalahan yang dilakukan oleh pandangan matanya bersama dengan (tetesan) air atau tetesan air terakhir (yang mengalir darinya). Ketika dia membasuh kedua tangannya, maka keluarlah dari kedua tangannya tersebut semua kesalahan yang dilakukan oleh kedua tangannya bersama dengan (tetesan) air atau tetesan air terakhir (yang mengalir darinya). Ketika dia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah dari kedua kakinya tersebut semua kesalahan yang dilakukan (dilangkahkan) oleh kedua kakinya, bersama dengan (tetesan) air atau tetesan air terakhir (yang mengalir darinya), sehingga dia keluar dalam keadaan bersih dari dosa (yaitu dosa kecil, pen)”.
(HR. Muslim no. 244).
Mereka beranggapan, jika air bekas wudhu' yang masih menempel dianggota badan dikeringkan, maka mereka tidak bisa mendapatkan keutamaan dibersihkan dari dosa (kesalahan) bersamaan dengan tetesan air wudhu' yang terakhir.
Benarkah anggapan semacam ini ?
Berkenaan dengan masalah ini, terdapat perselisihan pendapat dikalangan para ulama tentang hukum mengeringkan anggota badan setelah berwudhu'.
Pendapat pertama menyatakan bahwa hukumnya makruh. Para ulama yang berpendapat seperti ini berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Maimunah Radhiyallahu ‘anha ketika menggambarkan tata cara mandi wajib (mandi janabah) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadits tersebut Maimunah Radhiyallahu ‘anha mengatakan:
ﺛُﻢَّ ﺃَﺗَﻴْﺘُﻪُ ﺑِﺎﻟْﻤِﻨْﺪِﻳﻞِ ﻓَﺮَﺩَّﻩُ
“Kemudian aku ambilkan kain untuk beliau, namun beliau menolaknya ”.
(Muttafaq ‘alaihi. Lafadz hadits ini milik Muslim no. 317).
Namun hadits ini tidaklah menunjukkan hukum makruh mengeringkan anggota badan setelah wudhu'. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menggunakan handuk setelah mandi, tidaklah menunjukkan bahwa itu dibenci.
Pendapat kedua menyatakan bahwa hukumnya mubah (boleh), baik setelah berwudhu' atau setelah mandi. Banyak ulama yang berpendapat bolehnya menyeka anggota wudhu' dengan handuk atau semisalnya. Diantaranya adalah 'Utsman bin Affan, Anas bin Malik, Hasan bin Ali, Hasan Al-Basri, Ibnu Sirin, Asy-Sya’bi, Ishaq bin Rahawaih, Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad, dan salah satu pendapat Madzhab Imam Asy-Syafi'i. Ini juga berdasarkan riwayat dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu 'anhuma.
Dalil yang menguatkan pendapat kedua ini adalah:
Pertama, hadits dari 'Aisyah Radhiyallahu ‘anha , beliau mengatakan:
ﻛَﺎﻥَ ﻟِﺮَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺧِﺮْﻗَﺔٌ ﻳُﻨَﺸِّﻒُ ﺑِﻬَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟﻮُﺿُﻮﺀِ
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kain yang beliau gunakan untuk mengeringkan anggota badan setelah berwudhu' ”.
(HR. At-Tirmidzi no. 53, An-Nasa'i dalam Al-Kuna dengan sanad shahih. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ , 4706).
Kedua: hadits yang diriwayatkan oleh Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺗَﻮَﺿَّﺄَ، ﻓَﻘَﻠَﺐَ ﺟُﺒَّﺔَ ﺻُﻮﻑٍ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ، ﻓَﻤَﺴَﺢَ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﺟْﻬَﻪُ
“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu', kemudian membalik jubah wol beliau dan mengusap wajahnya dengannya (bagian dalam jubahnya, pen.)”.
(HR. Ibn Majah 468. Fuad Abdul Baqi mengatakan: dalam Zawaid sanadnya shahih dan perawinya tsiqat. Syaikh Al-Albani menilai hasan [baik]).
Para ulama yang membolehkan berargumentasi bahwa hadits Maimunah Radhiyallahu ‘anha diatas tidak bisa digunakan sebagai dasar makruhnya mengeringkan anggota badan setelah berwudhu' atau mandi. Hal ini karena penolakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut mengandung banyak kemungkinan, misalnya karena kainnya yang kotor (tidak bersih), atau beliau tidak ingin kain tersebut basah terkena air, atau alasan - alasan lainnya. Selain itu, hadits Maimunah Radhiyallahu ‘anha ini justru mengisyaratkan bahwa diantara kebiasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau biasa mengeringkan anggota badan setelah berwudhu' sehingga Maimunah pun menyiapkan kain untuk beliau. Isyarat ini dikuatkan oleh hadits ‘Asiyah Radhiyallahu ‘anha yang menyatakan bahwa beliau memiliki kain khusus yang biasa beliau gunakan untuk menyeka air setelah berwudhu'.
Kesimpulan:
Pendapat yang lebih rajih (kuat) adalah bahwa mengeringkan atau menyeka anggota badan setelah berwudhu' hukumnya BOLEH (MUBAH) dan tidak makruh.
Syaikh Abu Malik mengatakan: ”Boleh mengeringkan anggota badan setelah berwudhu' karena tidak adanya dalil yang melarang hal tersebut, sehingga hukum asalnya adalah boleh (mubah)".
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang mengabarkan tentang keutamaan berwudhu' dalam hadits riwayat Muslim diatas sehingga beliau adalah orang yang paling paham dalam masalah ini dan paling paham bagaimanakah cara meraih keutamaannya. Oleh karena itu, antara terhapusnya dosa bersamaan dengan tetesan air wudhu' yang terahir dengan mengeringkan anggota badan setelah berwudhu', tidaklah saling bertentangan.
Wallahu a’lam.
Catatan kaki:
[1] Lihat Shifat Wudhu’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karya Fahd bin Abdurrahman Ad-Dausri, hal. 42-43.
[2]. Lihat Shahih Fiqh Sunnah 1/127.
[3]. Shahih Fiqh Sunnah 1/126.
(Pertanyaan yang dijawab oleh Al-Ustadz Ammi Nur Baits, Lc dewan pembina konsultasisyariah.com/)
Al-Ustadz Ammi Nur Baits, Lc Beliau adalah Alumni Madinah International University, Jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh. Saat ini, beliau aktif sebagai Dewan Pembina website pengusahamuslim.com, konsultasisyariah.com, dan Yufid.TV, serta mengasuh pengajian dibeberapa masjid disekitar kampus UGM.
Sumber:
http://www.konsultasisyariah.com/
http://muslim.or.id
Diarsipkan oleh Abu Fina:
http://arie49.wordpress.com
http://arie.doank49.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)